Pencurian Ikan Berkurang 50 Persen, JK Puji Menteri Susi

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Polisi memberi arahan kepada nelayan asing pelaku pencurian ikan di Belawan, Sumatera Utara, 21 Mei 2015. Personel Dit Polair berhasil menangkap satu nahkoda dan empat nelayan asing asal Thailand, yang mencuri ikan di perairan laut Indonesia dengan barang bukti ikan sebanyak 1 ton. ANTARA/Irsan Mulyadi

    Polisi memberi arahan kepada nelayan asing pelaku pencurian ikan di Belawan, Sumatera Utara, 21 Mei 2015. Personel Dit Polair berhasil menangkap satu nahkoda dan empat nelayan asing asal Thailand, yang mencuri ikan di perairan laut Indonesia dengan barang bukti ikan sebanyak 1 ton. ANTARA/Irsan Mulyadi

    TEMPO.CO, Jakarta - Wakil Presiden, Jusuf Kalla memuji kebijakan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti yang berani membakar belasan kapal ilegal penangkap ikan (illegal fishing). Musababnya, setelah kebijakan itu diterapkan, angka pencurian ikan menurun 50 persen.

    "Saya kira apabila bicara maritim, tentu dimaklumi tahun ini tidak ada negara yang ekspansif untuk memerangi illegal fishing selain Indonesia," kata JK  di Hotel Fairmont, Jakarta Selatan, Selasa, 9 Juni 2015.

    JK  menambahkan, sebelumnya Kementerian Kelautan hanya melakukan seminar pemberantasan pencurian ikan tanpa ada penindakan. "Tapi, setelah Menteri Kelautan membakar 14 kapal ilegal, sudah 50 persen selesai dan mudah-mudahan berlanjut terus."

    JK mengatakan kebijakan pemberantasan kapal penangkap ikan juga harus dibarengi dengan pembangunan infrastruktur di bidang kelautan dan perikanan. Misalnya, pembangunan gudang perikanan dengan dilengkapi cold storage.

    Menurut JK, bisnis  perikanan membutuhkan proses dalam produksi. Dan itu dibutuhkan investasi yang banyak, khususnya listrik. "Karena itu tahun ini mulai 35 ribu megawatt. Tahun berikutnya harus 40 ribu megawatt."

    REZA ADITYA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Arti Bilangan R(0) dan R(t) untuk Menerapkan New Normal

    Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Suharso Monoarfa mengatakan bahwa suatu daerah dapat melaksanakan New Normal bila memenuhi indikator R(0).