Indonesia-Amerika Serikat Mulai Kerja Sama Bidang Penerbangan Sipil

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi penerbangan. TEMPO/Ifa Nahdi

    Ilustrasi penerbangan. TEMPO/Ifa Nahdi

    TEMPO.COJakarta - Kementerian Perhubungan bersama sejumlah pelaku industri penerbangan dari Amerika Serikat, Selasa, 9 Juni 2015, mulai membentuk kelompok kerja bidang penerbangan sipil.

    Kelompok kerja bidang penerbangan sipil itu merupakan tindak lanjut nota kesepahaman antara Kementerian Perhubungan dan pemerintah Amerika Serikat yang ditandatangani pada 20 April 2015.

    Dari Amerika, sekitar 15 pelaku industri penerbangan bergabung dalam kelompok kerja, seperti Honeywell Aerospace, Boeing, Lockheed Martin, Harris, dan Embry Riddle. Otoritas Penerbangan Amerika Serikat (FAA) juga hadir. Sedangkan dari Indonesia hadir PT Angkasa Pura I, PT Angkasa Pura II, Garuda Indonesia, AirNav Indonesia, Lion Group, dan PT Dirgantara Indonesia.

    Adapun nota kesepahaman kerja sama bertujuan untuk membentuk suatu wadah komunikasi dan kerja sama di antara kalangan industri penerbangan. Kerja sama meliputi modernisasi navigasi udara; infrastruktur bandar udara; keamanan dan keselamatan penerbangan; pengembangan dan pertumbuhan layanan pendukung penerbangan; analisis, pengembangan, dan perencanaan kapasitas bandar udara serta ruang udara; integrasi akses penerbangan umum; dan keamanan kargo.

    "Kerja sama semacam ini sudah kami lakukan dengan India dan Cina dalam sepuluh tahun belakangan," kata Duta Besar Amerika Serikat untuk Indonesia, Robert Blake, di kantor Kementerian Perhubungan, Jakarta, Selasa, 9 Juni 2015.

    Menurut Menteri Perhubungan Ignasius Jonan, keselamatan penerbangan merupakan fokus utama Kementerian pada sektor transportasi udara. Maskapai penerbangan carter dan berjadwal harus memenuhi standar keselamatan yang disyaratkan International Civil Aviation Organization (ICAO) dan Undang-Undang Penerbangan. "Enggak ada kompromi. Enggak ada nego," ujar Jonan.

    Saat ini penerbangan Indonesia masih berada pada kategori 2 berdasarkan penilaian Otoritas Penerbangan Amerika Serikat (FAA). Kondisi itu mengakibatkan maskapai nasional dilarang terbang ke Amerika. Kementerian Perhubungan menargetkan penerbangan nasional bisa masuk kategori 1 FAA.

    KHAIRUL ANAM


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.