Cabai dan Bawang Meroket, Pedagang Batasi Pembelian

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pedagang cabai di Pasar Kosambi, Bandung (12/9). Setiap hari harga naik dan membuat pedagang ragu untuk menyediakan stok. Saat ini harga cabai merah mencapai Rp 30.000. Foto: TEMPO/Prima Mulia

    Pedagang cabai di Pasar Kosambi, Bandung (12/9). Setiap hari harga naik dan membuat pedagang ragu untuk menyediakan stok. Saat ini harga cabai merah mencapai Rp 30.000. Foto: TEMPO/Prima Mulia

    TEMPO.COBandung - Pedagang pasar membatasi pembelian bawang dan cabai merah karena harganya meroket. “Kalau pedagang dengan harga mahal itu akan menyesuaikan jualannya,” kata Ketua Bidang Humas dan Kelembagaan Persatuan Pedagang Pasar dan Warung Tradisional (Pesat) Jawa Barat Agus Juandi Fadilah saat dihubungi Tempo, Jumat, 5 Juni 2015. 

    Agus mencontohkan, biasanya dia membeli dari pengecer 10 kilogram, kini hanya separuhnya. “Kalau soal harga faktornya produksi terbatas, tapi konsumsi juga naik,” ujarnya. 

    Menurut Agus, harga bawang dan cabai merah yang saat ini paling melonjak. Bawang merah sudah dua hari terakhir harganya tembus Rp 35-40 ribu per kilogram, lalu cabai merah berkisar Rp 32-35 ribu per kilogram. 

    Agus mengatakan permintaan konsumen menjelang Ramadan menjadi salah satu penyebab naiknya harga, sementara pasokan terbatas. “Setiap tahun seperti ini menjelang Ramadan, antara produksi dan konsumsi tidak seimbang,” tuturnya. Ada pula kemungkinan ulah spekulan juga memicu kenaikan harga bawang merah dan cabai merah. 

    Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jawa Barat Ferry Sofwan Arif mengakui bawang merah dan cabai merah merupakan dua komoditas yang naik drastis. “Terjadi kenaikan harga untuk bawang merah dan cabai merah, khususnya cabai merah tanjung yang banyak dipakai masyarakat untuk sambal dadakan,” ucapnya saat dihubungi Tempo, Jumat, 5 Juni 2015. 

    Dari segi pasokan, sentra cabai merah relatif banyak di Jawa Barat. Di antaranya Garut, Bandung, Tasikmalaya, Majalengka, Cianjur, serta Sukabumi. Sedangkan sentar bawang merah terbatas hanya di Majalengka dan Cirebon. “Tapi kita harus melihat bukan dari sisi suplai saja, tapi juga menghitung demand,” kata Ferry. 

    Soal kemungkinan ulah spekulan, Ferry mengatakan, berpeluang terjadi pada perdagangan bawang merah. Dia beralasan, bawang merah masih bisa disimpan paling lama sebulan. “Bawang punya daya tahan sebulan, kalau cabai merah hanya sehari-dua hari,” ujarnya. “Khusus cabai, ada pada titik-titik tertentu jelang Ramadan kebutuhannya memang tinggi, tapi suplai terbatas.” 

    Ferry mengatakan, dalam jangka pendek, untuk menekan kenaikan harga dibutuhkan peran kabupaten/kota yang menjadi sentra pengecekan stok di wilayah masing-masing. “Daerah sentra produksi bisa melihatnya sebagai peluang untuk mengembangkan wilayah pengiriman lebih luas lagi. Ini yang paling mungkin dalam waktu cepat,” tuturnya. 

    Menurut Ferry, pemerintah provinsi dan Bank Indonesia tengah mengembangkan Early Warning System untuk memantau pergerakan harga barang komoditas. Pantauan harga yang ditampilkan pada situs Priangan.org itu menjadi panduan dinas teknis di provinsi dan kabupaten/kota untuk mengantisipasi ketimpangan distribusi barang. “Tapi masih banyak hal teknis yang harus dibahas,” ucapnya. 

    Pantauan harga terkini yang dicatat Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jawa Barat di pasar tradisional di Kota Bandung antara lain harga cabai merah diperdagangkan berkisar Rp 35-40 ribu per kilogram. Sedangkan bawang merah Rp 34-38 ribu per kilogram.

    AHMAD FIKRI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Menimbun Kalori Kue Lebaran, seperti Nastar dan Kastengel

    Dua kue favorit masyarakat Indonesia saat lebaran adalah nastar dan kastangel. Waspada, dua kue itu punya tinggi kalori. Bagaimana kue-kue lain?