Ribuan Hektare Padi di Subang Alami Kekeringan  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seekor ternak digembalakan di areal persawahan yang mulai mengalami kekeringan di kawasan Pagedangan, Kab.Tangerang, Banten, Senin (23/7). ANTARA/Lucky.R

    Seekor ternak digembalakan di areal persawahan yang mulai mengalami kekeringan di kawasan Pagedangan, Kab.Tangerang, Banten, Senin (23/7). ANTARA/Lucky.R

    TEMPO.CO, Subang - Ribuan hektare tanaman padi di lima kecamatan di Kabupaten Subang, Jawa Barat, mulai dilanda kekeringan. Bahkan di antaranya ada yang terancam mati meranggas, sebab tak lagi ada sumber air setempat yang bisa mengairi.

    Sebagian petani bahkan terpaksa harus gigit jari karena sawah mereka sudah dipastikan tak bisa diolah lagi buat musim tanam gadu atau tanam kedua yang tengah berlangsung saat ini.

    Menurut pantauan Tempo di Desa Cihambulu, Kecamatan Pabuaran, hari ini, sawah yang ditanami padi rata-rata berumur 14-30 hari tampak sudah kering-kerontang. Tanaman padinya pun sudah terlihat mulai mengering. "Kami sudah berusaha keras mengairinya dengan menggunakan air sumur pantek, tapi tak bisa bertahan lama," ujar salah seorang petani, Kusnadi. "Jadinya, pasrah saja."

    Petani lain, Oman, mengaku dalam posisi maju kena-mundur kena untuk menyelamatkan tanaman padinya yang sudah berumur lebih dari 20 hari itu. "Saya coba pakai dua pompa air," ujarnya. Hasilnya, dalam waktu 1 X 24 jam, sawahnya yang seluas 2 hektare itu mendapat aliran air.

    Namun, untuk menyelamatkan sawahnya tersebut, dia harus mengeluarkan biaya tambahan untuk membeli mesin pompa air ukuran 2 inci sebesar Rp 3,5 juta dan mengebor sumber air dengan kedalaman 35 meteran dengan biaya Rp 1 juta. Adapun ongkos produksi pengolahan, pemupukan, pestisida, dan pemeliharaan sebesar Rp 5 jutaan per hektare. Untuk sementara, Oman menyatakan tidak berhitung untung-rugi. "Yang terpenting, tanaman padi bisa diselamatkan."

    Kepala Desa Cihambulu, Hasan Abdul Munir, menyebutkan setidaknya ada 210 hektare area tanaman padi muda usia di desanya yang terancam mati meranggas akibat dilanda kekeringan. "Para petani sudah sampai pada tahap pasrah," katanya.

    Kondisi serupa juga dialami para petani di Kecamatan Dawuan, Cipeundeuy, Pagaden, Pagaden Barat, dan Cikaum. Maklum, sumber air setempat dan air irigasi di sejumlah kecamatan tersebut juga sudah kering. "Sumber air irigasi Bendung Leuwi Nangka sampai sekarang masih belum diperbaiki. Jadi, kami tak memiliki sumber lain," ujar Huaseni, petani di Kecamatan Pagaden Barat.

    Kepala Bidang Sumber Daya Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Subang Hendrawan membenarkan informasi bahwa ada ribuan hektare sawah yang kini mulai dilanda kekeringan. "Hampir semua area tanaman padi yang terancam kekeringan tersebut berada di wilayah tadah hujan," ujarnya.

    NANANG SUTISNA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.