47 Tahun Berdiri, Bulog Hanya Kuasai 5 Persen Stok Beras  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Beras impor asal Thailand beredar di Pasar Induk Beras Cipinang, Jakarta, 20 Februari 2015. Bulog memastikan tak akan impor beras tahun 2015. Sebab harga beras pada 2015, diyakini tidak akan terlalu bergejolak karena produksi berlimpah. TEMPO/Subekti

    Beras impor asal Thailand beredar di Pasar Induk Beras Cipinang, Jakarta, 20 Februari 2015. Bulog memastikan tak akan impor beras tahun 2015. Sebab harga beras pada 2015, diyakini tidak akan terlalu bergejolak karena produksi berlimpah. TEMPO/Subekti

    TEMPO.COJakarta - Perum Bulog mengakui penyerapan beras nasional yang menjadi kewajiban perusahaan saat ini sangat rendah. Setiap tahun, rata-rata Bulog hanya mengambil beras 5,75 persen dari total produksi nasional.

    "Bahkan penyerapan terendah terjadi pada 1998 yang hanya 0,8 persen," ujar Direktur Pelayanan Publik Bulog Lely Pelitasari dalam diskusi “Pangan Kita” di Jakarta, Senin, 1 Juni 2015.

    Tahun ini saja, Bulog hanya menargetkan penyerapan beras sebanyak 2,75 juta ton. Padahal produksi beras nasional tahun ini diperkirakan mencapai 45 juta ton. Sedangkan 94,25 persen beras dikuasai pengusaha beras swasta. Penyerapan Bulog yang rendah itu pun setelah mendapat kucuran dana penanaman modal negara dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan 2015 sebesar Rp 3 triliun. 

    Rendahnya penyerapan ini diakui Lely. Namun dia mengklaim capaian ini sejalan dengan kewajiban Bulog yang membeli kelebihan beras dari petani. Padaha, salah satu peran Bulog sebagai perusahaan pelat merah adalah stabilisator harga. Peran ini diperkuat dalam Instruksi Presiden Nomor 5 Tahun 2015.

    Direktur Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Enny Sri Hartati menuding keadaan seperti inilah yang menjadi celah bagi para mafia memainkan harga beras di pasaran. Langkah ini dibuktikan Enny dengan tingginya disparitas harga gabah, yang saat ini seharga Rp 3.200 per kilogram, dengan harga beras seharga Rp 7.500 per kilogram.

    Fungsi stabilisator harga, ucap Enny, seharusnya ditunjukkan Bulog dengan menguasai paling tidak 10 persen stok beras nasional. Angka penguasaan ini dipercaya membuat pengusaha beras swasta berpikir dua kali jika ingin menaikkan harga.

    Namun penguasaan lagi-lagi terantuk pada dana. Selama ini, untuk pembelian beras, Bulog mengajukan kredit komersial kepada bank yang dibayar ketika penjualan selesai.

    Mekanisme pembiayaan inilah, menurut Enny, yang membuat Bulog sulit memulai ekspansi ke petani. Sebab, dengan keadaan perusahaan yang tergantung pada anggaran negara, bank bakal sulit mengucurkan pinjaman dalam jumlah besar.

    Namun Lely membela perusahaannya dengan mengatakan Bulog sudah mengambil siasat ekspansi dengan memperbanyak jalur pasokan. Selain bermitra dengan 134 unit penggilingan gabah dan beras, Bulog menjalin relasi dengan koperasi unit desa dan gabungan kelompok tani di daerah-daerah.

    Bulog juga mengklaim tidak pernah kesulitan dana ketika menyerap beras lokal. Selama ini, Bulog menerapkan sistem one day service untuk menjamin ketersediaan pasokan beras.
    "Jadi, ketika pemasok menjual beras ke Bulog pada pagi hari, pada sore sudah kami bayar," ujarnya.

    ROBBY IRFANY


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.