Pertamina Klaim Harga Pertamax Sudah Tepat

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas menunjukan selang pengisian bahan bakar Pertamax Plus saat akan mengisi kendaraan di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Pertamina kawasan Otista, Jakarta (26/8). Tempo/Aditia noviansyah

    Petugas menunjukan selang pengisian bahan bakar Pertamax Plus saat akan mengisi kendaraan di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Pertamina kawasan Otista, Jakarta (26/8). Tempo/Aditia noviansyah

    TEMPO.CO , Jakarta:  Pertamina membantah anggapan bahwa harga baru Pertamax, yang lebih mahal dibanding Shell dan Total, disebabkan komponen produksi di perusahaan milik negara itu lebih mahal. “Tidak. Kami sama saja dengan yang lain kok,” kata Direktur Pemasaran Pertamina, Ahmad Bambang, di Jakarta kemarin.


    Sejak kemarin dinihari, harga bensin RON 92 Pertamax naik Rp 500 menjadi Rp 9.300 per liter, dan Pertamax Plus (RON 95) naik Rp 150 menjadi Rp 10.150. Shell sejak Selasa lalu menaikkan harga bensin RON 92 menjadi Rp 9.100. 


     Menurut Ahmad, harga baru Pertamax itu mempertimbangkan kenaikan harga minyak dunia saat ini. Kenaikan harga sebenarnya sudah direncanakan Pertamina sejak 15 Mei lalu, namun tertunda karena menuai polemik. Waktu itu harga Pertamax jauh lebih murah daripada produk serupa milik Shell dan Total.


    Dihubungi terpisah, Ketua Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas Bumi (Hiswana Migas) Eri Purnomohadi yakin selisih harga BBM RON 92 sebesar Rp 200 tidak membuat membuat konsumen Pertamina berpindah membeli bensin dari merk lain seperti Shell dan Total. Dia menilai price sensitive  Pertamax yang tidak signifikan.

    "Minimal naik Rp 500 kalau berpengaruh," katanya saat dihubungi, Sabtu, 30 Mei 2015. Namun kenaikan harga Rp 500 pun, tidak banyak berpengaruh karena konsumen cenderung memilih kompetitor Pertamina karena lokasinya lebih sepi dan tidak antri.

    Menurut dia, Pertamax tetap menjadi pilihan konsumen karena Pertamina mempunyai SPBU lebih banyak dari para pesaingnya yang menyebabkan market konsumen lebih tinggi. Eri memperkirakan jumlah SPBU Pertamina di kawasan Jabodetabek mencapai 700 unit, jauh lebih banyak dari milik Shell atau Total yang mencapai kurang dari 100 unit.

    Dia mengatakan memang ada kemungkinan migrasi dari konsumen Pertamax  ke Premium karena kenaikan harga yang lebih tinggi dari kompetitornya. Namun diprediksi kurang dari 10 persen konsumen Pertamax memilih Premium. Mereka merupakan konsumen abu-abu (swing) yang jumlahnya 20 persen dari pembeli BBM Pertamina.

    Eri mengatakan Pertamax lebih mahal dari pesaingnya karena pemerintah sempat melarang kenaikan BBM ron 92 tersebut. Padahal di saat yang sama, Shell dan Total telah menaikkan harga BBM ron 92. Dia mengatakan baru pertama kalinya harga Pertamax lebih mahal dari kompetitornya mengingat Pertamina adalah price leader dan price maker di market BBM nasional.

    "Besok lusa paling Shell dan Total harganyanya berubah, mengikuti price adjustment dari kompetitor, Pertamina," katanya.

    ALI HIDAYAT|PRAGA UTAMA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Menimbun Kalori Kue Lebaran, seperti Nastar dan Kastengel

    Dua kue favorit masyarakat Indonesia saat lebaran adalah nastar dan kastangel. Waspada, dua kue itu punya tinggi kalori. Bagaimana kue-kue lain?