Omzet Pedagang Beras Cipinang Tergerus Isu Beras Plastik

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pedagang menunjukan salah satu beras yang dijualnya di Pasar Induk Beras Cipinang, Jakarta, 21 Mei 2015. Para pembeli mencium aroma dan melihat bentuk fisik beras, salah satu cara yang dilakukan warga untuk menghindari peredaran beras sintetis dipasaran. TEMPO/Subekti.

    Pedagang menunjukan salah satu beras yang dijualnya di Pasar Induk Beras Cipinang, Jakarta, 21 Mei 2015. Para pembeli mencium aroma dan melihat bentuk fisik beras, salah satu cara yang dilakukan warga untuk menghindari peredaran beras sintetis dipasaran. TEMPO/Subekti.

    TEMPO.CO, Jakarta - Pedagang pasar induk beras Cipinang mengeluhkan tersiarnya kabar beras sintetis yang beredar di Bekasi. Dampaknya, omzet para pedagang tradisional ikut turun.

    Welly Anthony, pemilik toko beras Ario Makmur di Pasar Cipinang, mengklaim merugi hingga 50 persen. "Kiriman beras ke luar Jawa hampir setengahnya tidak terserap," katanya dalam dialog Persatuan Penggilingan Padi DKI Jakarta dengan PT Jakarta Food Station dan perwakilan Seknas Jokowi, Senin, 25 Mei 2015.

    Isu beras sintetis, atau juga disebut beras plastik, terbongkar setelah ada pengaduan konsumen beras, Dewi Septiani, pedagang bubur ayam dan nasi uduk di Bekasi, Jawa Barat. Dewi mengunggah foto beras plastik ke media sosial dan mengadukannya ke pemerintah kota.

    Kabar beredarnya beras sintetis itu membuat omzet pedagang beras seperti Anthony anjlok. Anthony, yang biasa mengirim beras ke Pontianak, Kalimantan Barat, Riau, dan Kepulauan Riau sebesar 50 ton, kini hanya bisa mengirim 25 ton. Penurunan penjualan beras mempengaruhi catatan total penjualan di Pasar Cipinang.

    Menurut Anthony, total transaksi yang biasanya mencapai 5.000 ton per hari atau senilai Rp 45 miliar anjlok menjadi 2.000 ton dengan nilai Rp 30 miliar. Anthony menilai anjloknya omzet disebabkan pelanggan menilai beras plastik juga beredar di Pasar Cipinang.

    Ketua Persatuan Penggilingan Padi DKI Jakarta Nellys Sukidi membenarkan penurunan penjualan meski tidak mempengaruhi harga beras. "Tidak begitu berpengaruh karena saat ini ditopang stok beras yang masih banyak," katanya.

    Anthony juga terganggu dengan razia beragam aparat seperti Dinas Perdagangan, Kepolisian, hingga Badan Pengawas Obat dan Makanan. Sebab, aparat yang menggelar razia kerap mengambil sampel dalam jumlah banyak. Hal ini pun ia alami. Sebanyak dua karung beras harus direlakan diambil aparat yang berdalih akan menguji di laboratorium. Petugas razia juga datang dari beragam lembaga.

    ROBBY IRFANY


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.