Kisah Dewi Septiani, Penemu Beras Plastik yang Menggegerkan  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Walikota Bekasi Rahmat Effendi menunjukkan contoh beras plastik oplosan usai menggelar jumpa pers di Kantor Walikota Bekasi, Jawa Barat, 21 Mei 2015. Hasil uji terhadap beras plastik oplosan tersebut mengandung tiga unsur plasticizer plastik antara lain BBP (benzyl butyl phthalate), DEHP (bis (2-ethylexyl phatalate)), dan DINP (diisononyl phthalate). TEMPO/Dhemas Reviyanto

    Walikota Bekasi Rahmat Effendi menunjukkan contoh beras plastik oplosan usai menggelar jumpa pers di Kantor Walikota Bekasi, Jawa Barat, 21 Mei 2015. Hasil uji terhadap beras plastik oplosan tersebut mengandung tiga unsur plasticizer plastik antara lain BBP (benzyl butyl phthalate), DEHP (bis (2-ethylexyl phatalate)), dan DINP (diisononyl phthalate). TEMPO/Dhemas Reviyanto

    TEMPO.COJakarta - Dewi Septiani, 29 tahun, tak menyangka bahwa dirinya akan menjadi pemicu kehebohan nasional. Beras 6 liter yang dibelinya di Pasar Tanah Merah, Perumahan Mutiara Gading, Kecamatan Mustikajaya, Bekasi, Rabu dua pekan lalu kini masih menjadi perbincangan. “Saya tidak bermaksud membuat resah,” kata Dewi saat ditemuiTempo, 24 Mei 2015.

    Dia mengadukan temuan beras plastik agar masyarakat waspada. Awalnya, dia mengadukannya ke Badan Pengawas Obat dan Makanan melalui surat elektronik ke uplk@pom.go.id, Senin pekan lalu. Tak mendapat jawaban, dia berinisiatif mengunggahnya ke media sosial. Sebagai pedagang bubur ayam dan nasi uduk, dia tak ingin pembelinya mengkonsumsi beras bermasalah. “Apalagi pembeli di tempat saya banyak anak sekolah.”

    Tak disangka, sarjana ekonomi dari Universitas Islam 45 Bekasi, Jawa Barat, itu kemudian harus berurusan dengan polisi. Kepolisian Sektor Bantargebang, Kota Bekasi, memanggil Dewi, yang telah mengunggah foto beras yang diduga menggunakan bahan plastik. Dia diperiksa hampir sepuluh jam, pukul 13.00-21.30. “Padahal katanya hanya sebentar,” kata ibu satu anak kamdung dan dua anak asuh itu.

    Dewi mengatakan polisi meminta dirinya bertanggung jawab. Jika pernyataannya soal beras plastik salah, kata dia, polisi mengancam bahwa dirinya akan dituntut balik. “Saya tegaskan ke polisi, saya siap dituntut,” kata istri karyawan swasta itu.

    Keyakinan Dewi mengenai beras plastik muncul setelah memasak beras tersebut untuk membuat nasi uduk dan bubur. Biasanya untuk membuat bubur dibutuhkan waktu sekitar satu jam, tapi kali ini sampai dua jam bubur tidak jadi. Aromanya juga berbeda, seperti ada bau plastik. Kecurigaannya bertambah ketika ia menemukan informasi mengenai beras plastik melalui Internet. “Beras yang saya beli ciri-cirinya sama.”

    Setelah diuji, menurut Kepala Bagian Pengujian Laboratorium PT Sucofindo, Cibitung, Kabupaten Bekasi, Adisam Z.N., beras plastik itu sudah dioplos dengan beras alami. "Ada yang mengandung plastik," kata Adisam, Kamis pekan lalu.

    Dewi mengatakan sudah lega karena hasil laboratorium menyimpulkan bahwa beras itu mengandung bahan kimia. Setidaknya, dia tak khawatir akan dituntut balik. Kini Dewi telah kembali berjualan bubur ayam dan nasi uduk seperti biasa.

    ADI WARSONO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Menimbun Kalori Kue Lebaran, seperti Nastar dan Kastengel

    Dua kue favorit masyarakat Indonesia saat lebaran adalah nastar dan kastangel. Waspada, dua kue itu punya tinggi kalori. Bagaimana kue-kue lain?