Saham di Wall Street Melesat, Rekor Tertinggi

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Broker saham Gregory Rowe saat bekerja di Bursa Saham New York di New York (2/1). Pada pembukaan pasar di tahun 2014, saham dibuka lebih rendah di Wall Street karena pengaruh dari keuntungan tahunan terbesar dalam dua dekade terakhir. (AP Photo/Mark Lennihan)

    Broker saham Gregory Rowe saat bekerja di Bursa Saham New York di New York (2/1). Pada pembukaan pasar di tahun 2014, saham dibuka lebih rendah di Wall Street karena pengaruh dari keuntungan tahunan terbesar dalam dua dekade terakhir. (AP Photo/Mark Lennihan)

    TEMPO.CO, Jakarta - Saham-saham di Wall Street menguat dengan indeks S&P 500 melesat ke rekor penutupan tertinggi baru pada Kamis (Jumat pagi WIB), didorong oleh kenaikan kuat saham Apple, Facebook dan saham teknologi lainnya.

    Ukuran pasar lebih luas, S&P 500 naik 22,62 poin (1,08 persen) menjadi berakhir di 2.121,10, lebih dari tiga poin di atas rekor sebelumnya pada 2.117,69 yang ditetapkan pada 24 April. Indeks Dow Jones Industrial Average melompat 191,75 poin (1,06 persen) menjadi ditutup pada 18.252,24, sedangkan indeks komposit Nasdaq bertambah 69,10 poin (1,39 persen) menjadi 5.050,80.

    Analis mengatakan lonjakan saham sebagian disebabkan faktor teknis, seperti kemampuan pasar untuk reli awal pekan ini karena indeks "bermain mata" dengan tingkat penting di ujung bawah dari rentang perdagangan baru-baru ini.

    "Masalahnya beberapa kali terakhir kami punya satu dari hari-hari kenaikan besar, tidak ada tindak lanjut hari berikutnya," kata Mace Blicksilver, direktur Marblehead Asset Management. "Hari ini bagus, tapi besok adalah tes yang sesungguhnya."

    Rekor baru S&P 500 mencerminkan ketahanan pasar saham AS berkat kebijakan moneter longgar dan walaupun data AS lesu, karena laporan pada Rabu menunjukkan penjualan ritel datar pada April. Apple, perusahaan terbesar berdasarkan kapitalisasi pasar, melonjak 2,3 persen.

    Keuntungan besar lainnya diraih Facebook naik 3,7 persen, Microsoft naik 2,3 persen dan banyak saham bioteknologi, termasuk Gilead Sciences yang bertambah 2,2 persen.

    Raksasa ritel Wal-Mart Stores naik 0,7 persen karena meluncurkan sebuah program uji caba di AS memberikan pelanggan daring (online) pengiriman barang tak terbatas untuk 50 dolar AS per tahun, memasukkannya ke dalam persaingan langsung dengan layanan "premium" Amazon.

    Jaringan toko serba ada Kohl menjadi pengecer besar terbaru yang melaporkan hasil mengecewakan, jatuh 13,3 persen setelah penjualan kuartal pertamanya 4,12 miliar dolar AS, di bawah 4,19 miliar dolar yang diproyeksikan oleh para analis. Pengecer lainnya yang jatuh termasuk Target turun 3,2 persen, dan Best Buy turun 3,8 persen.

    Perusahaan kosmetik Avon Products naik 6,0 persen menyusul tawaran pengambilalihan yang ternyata palsu dari suatu entitas yang menyebut dirinya PTG Capital Partners. Avon mengatakan pihaknya tidak menerima tawaran dari PTG "dan belum bisa mengonfirmasi keberadaan entitas itu."

    Harga obligasi naik. Imbal hasil pada obligasi pemerintah AS 10-tahun turun menjadi 2,24 persen dari 2,29 persen pada Rabu, sementara pada obligasi 30-tahun turun menjadi 3,06 persen dari 3,08 persen. Harga dan imbal hasil obligasi bergerak berlawanan arah.

    ANTARA

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.