Konsumsi BBM Lebaran Diprediksi Tak Begitu Melonjak

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Penumpang memadati Stasiun Tanah Abang, Jakara, 30 Maret 2015. Kenaikan tarif akibat kenaikan BBM, perubahan margin biaya operasional kereta ekonomi menjadi 10 persen, dan pelemahan nilai tukar rupiah. TEMPO/M. Iqbal Ichsan

    Penumpang memadati Stasiun Tanah Abang, Jakara, 30 Maret 2015. Kenaikan tarif akibat kenaikan BBM, perubahan margin biaya operasional kereta ekonomi menjadi 10 persen, dan pelemahan nilai tukar rupiah. TEMPO/M. Iqbal Ichsan

    TEMPO.CO, Jakarta - Pengamat energi dari Indonesia Resources Studies, Marwan Batubara, memprediksi konsumsi bahan bakar minyak (BBM) pada bulan puasa dan Lebaran tahun ini tak melonjak signifikan.

    "Soalnya pertumbuhan konsumsi tahun ini juga rendah, tak naik banyak," katanya saat dihubungi pada Kamis, 7 Mei 2015. "Jadi stok BBM menjelang bulan puasa bakal aman."

    Berdasarkan catatan PT Pertamina (Persero), konsumsi nasional BBM jenis Premium per Januari hingga Maret tahun ini mencapai 6,7 juta kiloliter atau turun sebesar 5 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.

    Konsumsi solar tahun ini juga turun menjadi 3,3 juta kilo liter atau merosot 17 persen dari 3,8 juta kiloliter pada triwulan pertama 2014. Penurunan konsumsi ini merupakan dampak perekonomian yang lesu.

    Sementara itu, ihwal potensi kebocoran, Marwan mengatakan saat ini disparitas harga BBM bersubsidi dan BBM industri sudah sangat kecil.

    "Jadi potensi kebocoran bisa ditekan." Menurut dia, tatkala harga BBM masih disubsidi, kebocoran terjadi sangat banyak karena pengusaha ingin mendapat bahan bakar dengan harga yang lebih murah.

    PRAGA UTAMA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Menimbun Kalori Kue Lebaran, seperti Nastar dan Kastengel

    Dua kue favorit masyarakat Indonesia saat lebaran adalah nastar dan kastangel. Waspada, dua kue itu punya tinggi kalori. Bagaimana kue-kue lain?