Kemenperin Bersama Michelin Daur Ulang Ban Bekas

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pekerja mengamati proses produksi industri baja PT Gunung Steel Group di Cikarang, Bekasi, Jawa Barat, 26 Februari 2015. Jumlah industri baja nasional saat ini sebanyak 352 perusahaan tersebar di pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi. TEMPO/Tony Hartawan

    Pekerja mengamati proses produksi industri baja PT Gunung Steel Group di Cikarang, Bekasi, Jawa Barat, 26 Februari 2015. Jumlah industri baja nasional saat ini sebanyak 352 perusahaan tersebar di pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi. TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Kementerian Perindustrian menggandeng produsen ban asal Perancis Michelin untuk memanfaatkan ban bekas di Indonesia agar dapat digunakan untuk pembangunan infrastruktur jalan.

    "Populasi motor kita ada 80 juta, di kali dua 160 juta ban. Nah, bagaimana memanfaatkan ban-ban bekas ini agar tidak merusak lingkungan," kata Dirjen Industri Kimia, Tekstil dan Aneka Kemenperin Harjanto di Jakarta, Rabu.

    Harjanto mengatakan, dalam hal ini Michelin memiliki kemampuan dari sisi teknologi dan pengalaman memanfaatkan ban bekas untuk pembangunan jalan.

    "Kami minta Michelin bantu dari sisi teknologi dan ahli mereka. Bagaimana Indonesia bisa mengembangkan teknologi dan mengaplikasikannya di dalam negeri.

    Pada kesempatan tersebut, Kemenperin juga meminta kerja sama untuk proses "retreading tire" atau vulkanisir ban pesawat.

    "Di negara manapun, vulkanisir ban pesawat memang sudah diberlakukan. Persoalannya bukan hanya soal 'cost' tapi juga soal lingkungan. Jadi, bagaimana citra negatif vulkanisir ini bisa disampaikan secara teknis," kata Harjanto.

    ANTARA

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.