KAA Usai, Citilink Kembali Beroperasi di Bandara Halim

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah penumpang memasuki pesawat Citilink yang akan melakukan penerbangan perdana, di Bandar Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur (10/1). TEMPO/Imam Sukamto

    Sejumlah penumpang memasuki pesawat Citilink yang akan melakukan penerbangan perdana, di Bandar Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur (10/1). TEMPO/Imam Sukamto

    TEMPO.CO, Jakarta - Maskapai penerbangan domestik, Citilink Indonesia, kembali beroperasi di Bandar Udara Halim Perdana Kusuma, Jakarta Timur. Selama perhelatan Peringatan 60 Tahun Konferensi Asia Afrika di Jakarta pada 21-25 April 2015, penerbangan maskapai berbiaya murah ini dialihkan ke Bandara Soekarno-Hatta.

    Presiden sekaligus CEO Citilink Indonesia Albert Burhan menjelaskan Citilink mulai beroperasi lagi pada Ahad lalu, 26 April 2015. "Seluruh penerbangan Citilink ke tujuh kota tujuan yang selama ini dilayani telah kembali berlangsung seperti biasa," kata Albert dalam keterangan persnya, Senin, 27 April 2015.

    Tujuh kota yang menjadi rute penerbangan Citilink selama ini antara lain Bandara Kualanamu Medan, Bandara Juanda Surabaya, Bandara Achmad Yani Semarang, Bandara Adi Sucipto Yogyakarta, Bandara Adi Soemarmo Solo, Bandara Sultan Mahmud Badaruddin Palembang, dan Bandara Abdul Rachman Saleh Malang. Dalam sehari anak perusahaan Garuda Indonesia mencatatkan frekuensi penerbangan sebanyak 40 kali.

    Citilink, kata Albert, mendukung penyelenggaraan KAA. Alasannya, konferensi ini dihelat demi menjaga persaudaraan dan solidaritas antarnegara. Untuk itu Citilink mengupayakan agar kegiatan nasional bisa lancar terlaksana dengan tetap menjamin kenyamanan penerbangan agar penumpang Citilink tidak terganggu," kata dia.



    SINGGIH SOARES


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.