Kebijakan Ekonomi Jokowi Dinilai Condong ke Cina

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kelinci angora Emilson sesudah dipotong bulunya di sebuah peternakan, di Austria. Setiap satu ekor kelinci yang bulunya dipotong menghasilkan 300 gram benang wol.  REUTERS/Heinz-Peter Bader

    Kelinci angora Emilson sesudah dipotong bulunya di sebuah peternakan, di Austria. Setiap satu ekor kelinci yang bulunya dipotong menghasilkan 300 gram benang wol. REUTERS/Heinz-Peter Bader

    TEMPO.CO , Jakarta:  Direktur Institute for Economics and Development, Enny Sri Hartati mewanti-wanti sikap Jokowi yang ogah meminta bantuan Dana Moneter Internasional (IMF) ataupun World Bank. Sebab, ini seakan menegaskan Indonesia bakal semakin merapat ke Cina dalam urusan ekonomi.

    "Seperti ada agenda tersembunyi di sini. Ini seperti saat zaman Presiden Soekarno," ujar Enny saat dihubungi, Senin, 24 April 2015.

    Sikap Jokowi dilontarkan saat berpidato di Konferensi Asia-Afrika. Sementara, tak lama berselang, Jokowi bersama Presiden Cina Xi Jinping menyepakati kerja sama perdagangan sebesar US$ 150 miliar.

    Enny memafhumi bahwa Cina adalah salah satu kekuatan ekonomi global. Saat ini, meski melambat, pertumbuhan ekonomi Cina paling moncer dibanding negara-negara lain.

    Namun, kerjasama bilateral, kata Enny, selayaknya membutuhkan transparansi. Sebab, ini berguna untuk menciptakan iklim investasi yang sehat, khususnya di sektor yang bersinggungan dengan perdagangan global.

    Enny menambahkan, selama ini kerjasama dengan negara ekonomi maju tidak bersifat setara. Indonesia hanya menjadi pasar bagi produk-produk keluaran Negeri Tirai Bambu.

    Meski Indonesia membutuhkan Cina untuk pembiayaan infrastruktur, Jokowi harus tetap berpegang pada asas kesetaraan. "Jangan sampai ujung-ujungnya mereka mengeksploitasi kita," kata Enny.

    Sebelumnya Wakil Presiden, Jusuf Kalla  membantah jika pernyataan Presiden Joko Widodo ihwal melepas ketergantungan pada lembaga pemberi pinjaman internasional disebut sebagai sinyal ketertarikan Indonesia untuk bergabung dengan Asian Infrastructure Investment Bank (AIIB) yang diprakarsai Cina.

    Menurut JK, Presiden hanya memberikan alternatif pendanaan pembangunan infrastruktur. "Presiden hanya mengatakan jangan bergantung pada tiga bank itu," kata JK seusai pertemuan bilateral dengan beberapa negara di Perayaan 60 Tahun Konferensi Asia-Afrika di Jakarta.

    JK ingin menampik spekulasi bahwa Jokowi akan memutus hubungan dengan Bank Dunia, Dana Moneter Internasional (IMF), dan Bank Pembangunan Asia (ADB). JK memastikan hubungan Indonesia dengan ketiga lembaga keuangan internasional itu tetap terjaga.

    ROBBY IRFANY|TRI ARTINING PUTRI



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    7 Tips Agar Lebih Mudah Bangun Sahur Selama Ramadan

    Salah satu tantangan selama puasa Ramadan adalah bangun dini hari untuk makan sahur.