EKSKLUSIF: Aksi Susi Bikin 9 Kapal Tomy Winata Jadi Besi Tua  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Susi Pudjiastuti memotret dengan kamera kesayangan miliknya di Kediamannya, Komplek Menteri Widya Chandra V No.26, Jakarta, 14 Februari 2015. Kegemaran memotret ditularkan oleh Ayahnya yang merupakan juru foto sewaktu muda. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    Menteri Susi Pudjiastuti memotret dengan kamera kesayangan miliknya di Kediamannya, Komplek Menteri Widya Chandra V No.26, Jakarta, 14 Februari 2015. Kegemaran memotret ditularkan oleh Ayahnya yang merupakan juru foto sewaktu muda. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    TEMPO.CO, Jakarta -Kapal ikan milik Tomy Winata di Tual, Maluku Tenggara kini tak beroperasi lagi karena moratorium Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti. Sebagian dari kapal – kapal itu, bahkan kini sudah dipotong – potong menjadi besi tua.

    “Ada sembilan kapal yang di-scrap,” Kata Tomy saat ditemui Tempo Ahad pekan lalu di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat. Setelah dipotong – potong, kapal itu akan ditimbang lalu dijual ke pengolahan besi di pelabuhan sekitar Pulau Jawa. Sementara mesin – mesinnya akan dijual ke nelayan - nelayan di Afrika.

    Tomy, 56 tahun, pernah memiliki armada kapal penangkap ikan terbanyak di Tual, Maluku Tenggara, lewat PT Maritim Timur Jaya (MTJ) dan PT Binar Surya Buana (Binar). Ia memperoleh kapal – kapal itu setelah bekerjasama dengan nelayan Cina. Ia bahkan memiliki tempat pengolahan ikan terbesar di Tual.

    Setelah Susi mengeluarkan Peraturan Menteri Nomor 56/2014, Susi memoratorium izin kapal – kapal eks asing yang selama ini mencari ikan di Indonesia. Khususnya kapal asal Thailand dan Cina. Tomy kemudian tiarap dan memerintahkan semua kapal berlabuh. “Saya ingin membantu pemerintah,” kata Tomy.

    Bukan hanya Tomy, para pengusaha ikan lainnya ikut tiarap gara – gara Menteri Susi. Layar Vessel Monitoring System (VMS) di Kementerian Kelautan dan Perikanan menunjukkan kini laut Indonesia kosong. Hanya beberapa kapal yang berani melaut karena punya surat – surat yang lengkap. “Tidak boleh lagi ada kapal eks asing yang mencari ikan di Indonesia,” kata Susi.

    Selama masa moratorium itu, ada sembilan kapal milik Tomy dengan nama lambung MTJ dan Binar yang tidak diketahui keberadaannya. Stasiun Pengawasan Tual tidak pernah lagi menemukan sinyal GPS kapal – kapal itu. Tempo mencari kapal -kapal itu ke Fuzhou, Cina, namun nihil. “Kami punya laporan dan pemberitahuan kapal – kapal itu akan dibesituakan,” kata Tomy.

    Tim Investigasi Tempo


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Demo Revisi UU KPK Berujung Rusuh, Ada 1.365 Orang Ditangkap

    Demonstrasi di DPR soal Revisi UU KPK pada September 2019 dilakukan mahasiswa, buruh, dan pelajar. Dari 1.365 orang yang ditangkapi, 179 ditahan.