Benarkah AirAsia Hilang karena Badai?

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pesawat AirAsia di Bandara Internasional Kuala Lumpur, Malaysia, Juni 2014. Charles Pertwee/Bloomberg via Getty Images

    Pesawat AirAsia di Bandara Internasional Kuala Lumpur, Malaysia, Juni 2014. Charles Pertwee/Bloomberg via Getty Images

    TEMPO.CO, Jakarta - Ahli meteorologi dari CNN, Derek Van Dam, mengatakan faktor cuaca diprediksi merupakan penyebab jatuhnya pesawat AirAsia dengan nomor penerbanga QZ8501, Ahad pagi, 28 Desember 2014. "Ada indikasi badai besar menerpa jalur pesawat AirAsia pada saat kejadian," ujarnya, seperti dilansir CNN.

    "Tapi, seharusnya, turbulensi tidak bisa menjatuhkan pesawat," tuturnya. Van Dam juga meragukan kejadian tersebut. Musababnya, AirAsia adalah maskapai dengan reputasi bagus. (Baca: Di Mana Titik Air AirAsia Hilang di Radar?)

    Pesawat Airbus A320-200 ini berangkat dari Surabaya menuju Singapura pukul 05.27 WIB. Pesawat hilang kontak pada pukul 07.27 WIB. Sebelumnya, pesawat terbang di ketinggian 32 ribu kaki, tapi pilot meminta naik ke ketinggian 38 ribu kaki. Namun, seperti diberitakan ABC, sinyal pesawat hilang di ketinggian 3.200 kaki. (Baca: Di Cengkareng, Status AirAsia yang Hilang: Delayed)

    AirAsia nahas ini dikemudikan oleh Kapten Irianto dan membawa 162 penumpang, terdiri atas 157 warga Indonesia, 2 warga Korea Selatan, 1 warga Malaysia, dan 1 warga Singapura. Diduga, pesawat tersebut jatuh di Tanjung Panjang, Bangka Belitung. Pihak terkait masih berupaya mengumpulkan informasi ihwal jatuhnya pesawat ini.

    CNN | ABC | ANDI RUSLI


    Baca juga:
    Blusukan di Papua, Jokowi Disambut Meriah
    Jokowi: Saya Penuhi Janji Bikin Pasar di Papua
    Presiden Jokowi Dihadiahi Noken Papua  
    Kisah Menteri Bambang yang Anak Mama  


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.