Utang Dolar Tinggi, Rupah Terus Melemah  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO/Imam Sukamto

    TEMPO/Imam Sukamto

    TEMPO.CO, Jakarta - Penguatan dolar Amerika Serikat dan merosotnya harga minyak dunia membuat rupiah terus melemah. Analis pasar uang, Lindawati Susanto, mengatakan tingginya permintaan dolar menjelang akhir tahun turut membebani pergerakan rupiah. (Baca juga: Harga Minyak Merosot, Rupiah Loyo)

    Menurut Linda, saat ini terjadi lonjakan permintaan dolar untuk pembayaran impor serta utang jatuh tempo, "Baik utang negara maupun swasta," katanya kepada Tempo. Aksi beli dolar ini diperkirakan akan berlangsung hingga pekan kedua dan pekan ketiga Desember 2014.

    Dalam transaksi di pasar uang, Kamis, 11 Desember 2014, rupiah melemah 12 poin (0,09 persen) ke level 12.350 per dolar AS. Linda mengatakan lonjakan permintaan dolar di pasar domestik biasanya hanya terjadi pada setiap akhir bulan, dan rupiah kembali menguat pada awal bulan berikutnya. Namun, pada Desember, permintaan korporasi sudah melonjak di awal bulan demi mengantisipasi libur Natal. “Tekanan permintaan yang tinggi berpotensi menyeret rupiah ke level 12.400-12.500 di akhir tahun,” tuturnya. (Baca juga: IHSG Diprediksi Melemah Hari Ini.)

    Selain karena utang korporasi, Linda mengatakan, dolar semakin perkasa setelah pasar tenaga kerja di Amerika terus meningkat. Di lain pihak, rencana bank sentral AS (The Fed) menaikkan suku bunga deposito tahun depan mendorong pelaku pasar untuk berburu dolar. Tekanan terhadap euro, yen, dan rubel ikut memperlemah rupiah. Dalam perlambatan ekonomi, kata Linda, gairah investor untuk membeli aset berisiko akan berkurang. “Investor memilih mencari aman dengan membeli dolar.”

    Hari ini, 12 Desember 2014, rupiah diperkirakan berada di kisaran 12.300-12.400 per dolar. Dalam jangka pendek, intervensi bank sentral tidak akan terlalu berpengaruh bagi laju rupiah. Pasalnya, tekanan rupiah dari eksternal ataupun internal terlalu kuat.

    M. AZHAR

    Berita Terpopuler
    Busyro: Menteri Susi Adalah Siti Hajar Abad Ke-21

    Busyro Sebut Menteri Susi 'Hadiah' dari Jokowi 

    Menteri Susi: Berat Menghindari Korupsi  


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Arti Bilangan R(0) dan R(t) untuk Menerapkan New Normal

    Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Suharso Monoarfa mengatakan bahwa suatu daerah dapat melaksanakan New Normal bila memenuhi indikator R(0).