Punya Data, Menkeu Akan Paksa Kepatuhan Wajib Pajak  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Keuangan, Bambang Brodjonegoro di halaman Istana Merdeka, Jakarta, 26 Oktober 2014. TEMPO/Subekti

    Menteri Keuangan, Bambang Brodjonegoro di halaman Istana Merdeka, Jakarta, 26 Oktober 2014. TEMPO/Subekti

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro mengaku telah mengantongi data yang cukup tentang profil wajib pajak. "Senjata" itulah yang akan dipakai untuk memaksa para wajib pajak untuk lebih patuh.

    "Sebut saja Mister X. Rumahnya elite di Jakarta. Kita bisa tahu transaksi apa yang dilakukan, berapa Lamborghini yang sudah dibeli, berapa apartemennya. Kemudian, kita cek, berapa pajak yang dibayar setiap tahun," ujarnya dalam Tempo Economic Briefing di Hotel Shangri-La, Jakarta, Rabu, 10 Desember 2014.

    Menurut Bambang, upaya itu diambil untuk meningkatkan penerimaan pajak. Ia berjanji kebijakan ini tidak akan sampai mengganggu pelaku usaha. "Kalau kita melakukan peningkatan penerimaan, tidak dalam posisi mengganggu iklim usaha. Kita tidak bicara peningkatan tarif pajak, tidak bicara pajak dibayar di muka. Kita bicara soal kepatuhan. Kalau tadi bicara ada pembeli Lamborghini tidak punya NPWP (nomor pokok wajib pajak), itu ada yang salah," tuturnya. (Baca: Melongok Harta Puluhan Miliar Calon Dirjen Pajak)

    Pada kesempatan itu, Bambang mengungkap dua jurus memenuhi target penerimaan pajak yang diminta Presiden Joko Widodo. Pemerintah menetapkan target setoran pajak sebesar Rp 600 triliun tahun depan. (Baca: PPATK Serahkan 'Daftar Duit' Calon Dirjen Pajak)

    Dua jurus itu yang akan jadi fokus Direktorat Jenderal Pajak yaitu perbaikan tingkat kepatuhan dan law enforcement. "Dua itu yang (selama ini) membuat penerimaan pajak kita rendah," ujarnya.

    PINGIT ARIA



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Demo Revisi UU KPK Berujung Rusuh, Ada 1.365 Orang Ditangkap

    Demonstrasi di DPR soal Revisi UU KPK pada September 2019 dilakukan mahasiswa, buruh, dan pelajar. Dari 1.365 orang yang ditangkapi, 179 ditahan.