Rupiah Anjlok, BI: Mata Uang Lain Lebih Parah  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Gubernur BI Agus DW Martowardojo, resmikan penerbitan uang NKRI pecahan seratus ribu rupiah di Gedung Bank Indonesia, Jakarta, 18 Agustus 2014. TEMPO/Dian Triyuli Handoko

    Gubernur BI Agus DW Martowardojo, resmikan penerbitan uang NKRI pecahan seratus ribu rupiah di Gedung Bank Indonesia, Jakarta, 18 Agustus 2014. TEMPO/Dian Triyuli Handoko

    TEMPO.CO, Jakarta - Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo mengatakan situasi keuangan negara tidak tergoncang meskipun nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat sedang terpuruk. Ia menilai angka penurunan nilai tukar rupiah tidak memberikan pengaruh besar.

    “Seluruh dunia mengalami situasi ini (pelemahan nilai mata uang),” ujar Agus di kantornya, Rabu, 10 Desember 2014. Agus mengklaim depresiasi rupiah hingga Desember ini masih tergolong lebih rendah ketimbang negara-negara lain yang notabene lebih maju. (Baca: Menkeu Sebut Dua Sebab Rupiah Melemah)

    Pernyataan tersebut merespons anjloknya kurs rupiah beberapa waktu belakangan. Pada Senin lalu, kurs rupiah mencapai Rp 12.352 per dolar AS atau melonjak dibanding awal tahun 2014 pada kisaran Rp 12.000 per dolar AS. Hari ini, nilai tukar rupiah sedikit menguat pada Rp 12.336 per dolar AS.

    Namun, bila dibandingkan dengan asumsi kurs rupiah sebesar Rp 11.600 per dolar AS pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan 2014, kurs rupiah saat ini sangat jeblok. (Baca: Rupiah Anjlok, Intervensi BI Belum Terlihat)

    Menurut Agus, depresiasi rupiah tahun ini hanya mencapai 1,5 persen atau lebih rendah dibanding pelemahan yen Jepang yang diperkirakan bisa terdepresiasi hingga 15 persen. Won Korea dan ringgit Malaysia pun mengalami penurunan daya tukar hingga 6 persen.

    Pulihnya perekonomian AS dan dibuktikan dengan penguatan nilai tukar mata uang negara tersebut pula, tutur Agus, yang turut memicu instabilitas perekonomian. Hal itu dapat terlihat dari pelemahan kurs regional. Rupiah pun tak bisa mengelak dari imbas negatif tersebut. (Baca: Awal Pekan, Rupiah Merosot Lagi)

    Untuk menghadapi tren penguatan dolar AS, Agus menyatakan bank sentral sudah mempersiapkan diri atas kondisi ini dengan beberapa langkah antisipatif. Langkah tersebut antara lain berupaya menjaga stabilitas inflasi dan defisit transaksi berjalan.

    ANDI RUSLI

    Berita terpopuler:
    Amerika Dukung Menteri Susi Tenggelamkan Kapal 
    Terungkap, Rencana Transaksi Petral dan Sonangol
    ITB dan LEN Rancang Pemancar Jaringan 4G


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Protokol PSBB Masa Transisi di DKI Jakarta, Ada Rem Darurat

    Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memberlakukan PSBB Masa Transisi mulai 5 Juni 2020. Sejumlah protokol harus dipatuhi untuk menghindari Rem Darurat.