Rawan Celaka, Begini Rumitnya Syarat ABK Kapal

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Anak buah kapal. DOK/TEMPO/Fransiskus

    Anak buah kapal. DOK/TEMPO/Fransiskus

    TEMPO.CO, Jakarta - Duka akibat tenggelamnya kapal ikan Oryong 501 di Laut Bering, Rusia, terasa hingga ke Indonesia. Sebab, ada 35 anak buah kapal (ABK) asal Indonesia yang bekerja di kapal itu. Hingga kini, baru empat orang yang ditemukan, tiga dinyatakan selamat dan satu tewas. (Baca juga: Salju Turun, Evakuasi ABK Kapal Korsel Butuh 3 Hari)

    ABK adalah profesi yang penuh risiko. Karena itu, syarat dan kompetensi yang harus dipenuhi seorang ABK profesional sangat berat. Menurut Kepala Pusat Pendidikan dan Latihan Direktorat Jenderal Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan Indra Priyatna, ada beberapa tahap dan sertifikasi yang harus dimiliki seorang ABK profesional. (Baca juga: 4 TKI untuk Kapal Cina Telantar Setahun di Peru)

    Seperti apa tahapannya?

    1. Lolos Rekrutmen
    Calon ABK harus memenuhi syarat-syarat awal seperti kesehatan fisik, pengetahuan umum, dan hal lain yang ditetapkan lembaga pengguna. Setelah lolos proses rekrutmen, calon ABK akan mengikuti pelatihan. Para calon ABK akan menjalani assessment atau persiapan sebelum menjalani ujian. "Tapi, untuk mendapatkan sertifikasi, lembaga yang melakukan pengujian juga harus mendapatkan persetujuan dulu dari kami," kata Indra kepada Tempo, Rabu, 3 Desember 2014.

    2. Sertifikasi
    Indra menuturkan Kementerian Perhubungan tidak menerbitkan sertifikat untuk ABK kapal ikan, melainkan untuk kapal niaga. Sertifikat untuk ABK kapal niaga dibagi menjadi dua, yaitu keahlian dan keterampilan. Sertifikat keahlian nantinya akan mempengaruhi jabatan ABK di sebuah kapal dan dikeluarkan oleh Direktorat Jenderal Perhubungan Laut. Adapun sertifikat keterampilan merupakan syarat dasar dan dikeluarkan oleh lembaga atau sekolah tinggi yang mendapat otorisasi dari pemerintah.

    Beberapa jenis sertifikat yang diberikan misalnya Ahli Nautika Tingkat I-V dan Ahli Teknik Tingkat I-V untuk ABK kapal niaga internasional serta sertifikat khusus seperti general radio operator, tanker safety, medical certificate, dan buku pelaut. Menurut Indra, tidak ada perbedaan dalam proses sertifikasi antara ABK kapal niaga asing dan lokal. Sebabnya, Indonesia sudah meratifikasi standar internasional. Sebaliknya, bagi kapal ikan, Indonesia belum meratifikasi standar internasional. Indonesia hanya mengadopsi standarnya dan diterbitkan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan.

    3. Masuk Organisasi Profesi
    Menurut Indra, setelah mendapatkan sertifikat, para pelaut biasanya bergabung dengan organisasi tertentu seperti Kesatuan Pelaut Indonesia (KPI) untuk mendapatkan peluang kerja. Sebab, KPI akan melakukan perjanjian dengan perusahaan yang menampung ABK, terutama di kapal-kapal asing, "Yang mengesahkan perjanjian Kementerian Perhubungan," kata Indra. Namun para ABK juga bisa memilih, apakah bergabung dengan KPI atau menjadi ABK individu.

    FAIZ NASHRILLAH

    Berita Terpopuler
    Misteri Ceceran Duit di Rumah Fuad Amin
    Hitung Duit Fuad Amin, KPK Butuh Waktu Tujuh Hari
    Gubernur FPI Ngarep Sumbangan Warga

     


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Aturan Skuter Listrik Pasca Insiden GrabWheels Belum Ada Rujukan

    Pemerintah Provinsi DKI berencana mengeluarkan aturan soal skuter listrik setelah insiden dua pengguna layanan GrabWheels tewas tertabrak.