MEA, Vietnam Pesaing Berat di Industri Farmasi

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pekerja melakukan pengepakan obat oralit di pabrik  PT Indofarma (persero) Cibitung, Bekasi, Selasa (10/04). PT Indofarma akan melakukan investasi sebesar Rp 100 milliar untuk mengembangkan produksi generik dan herbal dan memenuhi kebutuhan bahan baku yang saat ini 90% masih Impor. TEMPO/Dasril Roszandi

    Pekerja melakukan pengepakan obat oralit di pabrik PT Indofarma (persero) Cibitung, Bekasi, Selasa (10/04). PT Indofarma akan melakukan investasi sebesar Rp 100 milliar untuk mengembangkan produksi generik dan herbal dan memenuhi kebutuhan bahan baku yang saat ini 90% masih Impor. TEMPO/Dasril Roszandi

    TEMPO.CO, Jakarta - PT Indofarma Tbk (INAF) mengaku percaya diri menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang berlaku tahun depan. Alasannya, di tingkat regional Asia Tenggara, jumlah produk farmasi Indonesia tergolong yang paling besar.

    Direktur Utama Indofarma Arif Budiman mengatakan salah satu negara ASEAN yang dianggap sebagai pesaing berat perusahaan adalah Vietnam. “Sebab di Vietnam harga obatnya cukup kompetitif,” kata Arif saat melakukan paparan publik di Bursa Efek Jakarta, Selasa, 2 Desember 2014.

    Walaupun begitu, dia yakin dari sisi kualitas, produk Indonesia lebih baik. Menurut Arif, ketentuan Good Manufacturing Produk (GMP) yang disyaratkan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan di Indonesia sudah memenuhi standar internasional.

    Adapun badan pengawas serupa di Vietnam masih menggunakan standar lokal. Dia justru lebih khawatir terhadap produk farmasi asal Cina dan India. Sebab kedua negara tersebut memiliki bahan baku sendiri dan tidak perlu impor. (Baca juga: Karyawati Rumah Sakit di Bangkok Dilarang Hamil)

    Arif mengatakan saat ini Indofarma sudah melakukan ekspor ke beberapa negara seperti Afganistan, Irak, dan Nigeria. Namun nilai ekspornya hanya lima persen dari jumlah keseluruhan produk. Untuk memperbesar kapasitas ekspornya, perseroan berencana bekerja sama dengan PT Kimia Farma Tbk.

    Apalagi saat ini Kimia Farma merupakan salah satu penyedia utama produk farmasi di Timor Timur. “Mulai tahun depan kami juga minta agar produk kami juga dibawa ke Timor Timur,” kata dia. (Lihat juga: Beredar, Obat dan Kosmetik Ilegal Senilai Rp 31 M)

    Ekspansi produk, kata Arif, juga dilakukan dengan menggandeng salah satu produsen makanan sehat asal Kanada. “Bentuk produknya seperti makanan sehat dan susu untuk penderita diabetes,” katanya.

    Bahkan perusahaan asal Kanada tersebut sudah mengajukan sertifikasi halal. Menurut Arif, pada tahun pertama, Indofarma hanya melakukan pengemasan dan penjualan. Dua atau tiga tahun setelah itu, perseroan berencana memusatkan produksinya di dalam negeri. "Kontribusinya sekitar Rp 20 miliar setahun."

    FAIZ NASHRILLAH

    Terpopuler:
    Risiko jika Jokowi Tenggelamkan Kapal Ilegal
    Ini Nama-nama Direksi Baru Pertamina
    Empat Poin Penting Aturan Baru Menteri Susi


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.