Sabtu, 17 November 2018

Pedagang Pilih Tak Naikkan Harga Daging Sapi  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi daging sapi. TEMPO/Tony Hartawan

    Ilustrasi daging sapi. TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Paguyuban pedagang daging sapi di Pasar Beringharjo, Yogyakarta, menyatakan tak berencana ikut menaikkan harga dagangannya menyusul kenaikan harga bahan bakar minyak bersubsidi.

    "Kalau kami ikut naikkan, pasti makin banyak yang beli daging ayam," kata Edi Santoso, pengurus paguyuban tersebut, kepada Tempo, Selasa, 18 November 2014.

    Edi menggambarkan, minat dan daya beli masyarakat terhadap daging ayam dan daging sapi masih sangat timpang. Sebanyak 80 persen pembeli daging memilih ayam, sisanya, 20 persen, adalah pembeli daging sapi. (Baca: Ekonom UGM: Alasan Kenaikan Harga BBM Mengada-ada)

    "Kalau sudah timpang seperti itu, jika daging sapi tetap naik, pembeli cuma mau balungan-nya (tulang) saja, untuk pemberi aroma makanan, misalnya," ujarnya. Saat ini harga jual daging sapi di Beringharjo masih di bawah Rp 100 ribu per kilogram. "Sekitar Rp 95-98 ribu per kilo mentok."

    Dengan harga yang tak diubah sejak Idul Adha lalu itu pun pedagang merasa daya beli masyarakat masih belum stabil. Hal ini terjadi sejak pemerintah mengeluarkan kebijakan membatasi impor daging awal tahun lalu. (Baca: Mengapa Harga BBM Hanya Naik Rp 2.000?)

    "Daya beli masih turun 25-30 persen, jadi kami pikir-pikir lagi kalau mau naik sekarang, bisa jadi 50 persen malah turunnya kalau nekat menaikkan," ujarnya.

    Pedagang hanya berharap daya beli masyarakat terhadap daging sapi saat ini tak banyak berubah pasca-kenaikan harga bahan bakar minyak bersubsidi. Daya beli masyarakat stabil asalkan stok daging di daerah stabil. (Baca: Subsidi BBM ke Sektor Produktif, Ekonom UGM: Bohong)

    "Jangan sampai terjadi kelangkaan daging saja, yang memicu harga daging naik," katanya. Kelangkaan daging di suatu daerah bisa dipicu oleh sejumlah faktor. Misalnya, melonjaknya permintaan akibat di daerah lain terjadi kelangkaan. "Terutama kelangkaan di kota besar, seperti Jakarta dan Surabaya, itu bisa berimbas ke daerah, karena akan banyak yang memborong dari sini."

    Para pedagang, lanjut Edi, saat ini hanya bisa pasrah ketika harga kulakan sapi dari peternak sudah naik. Jumlah kenaikan harga dari peternak Rp 500 ribu-1 juta per sapi. "Karena kebanyakan peternak di DIY juga mulai ambil dari daerah lain," katanya.

    Sukino, peternak dan penjual sapi asal Gunungkidul, mengaku sering mengambil sapi dari luar, seperti Wonogiri (Jawa Tengah) dan Pacitan (Jawa Timur). "Karena harganya lebih murah dan daging lebih banyak," katanya.

    PRIBADI WICAKSONO

    Berita Lain
    Beda Jokowi dan SBY dalam Umumkan Kenaikan BBM 
    Di Negara Ini Harga BBM Turun Tapi Tetap Mahal
    BEM Indonesia Akan Turunkan Jokowi
    Harga BBM Naik, JK Hubungi Ical dan SBY  


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Agar Merpati Kembali Mengangkasa

    Sebelum PT Merpati Nusantara Airlines (Persero) berpotensi kembali beroperasi, berikut sejumlah syarat agar Merpati Airlines dapat kembali ke angkasa.