Menperin: Pebisnis Tak Keluhkan Kenaikan Harga BBM  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Perindustrian Saleh Husin di halaman Istana Merdeka, Jakarta, 26 Oktober 2014. TEMPO/Subekti

    Menteri Perindustrian Saleh Husin di halaman Istana Merdeka, Jakarta, 26 Oktober 2014. TEMPO/Subekti

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Perindustrian Saleh Husin mengatakan, hingga saat ini, dirinya belum menerima masukan, keberatan, atau keluhan dari pengusaha mengenai rencana pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak bersubsidi.

    Sebab, kata Saleh, pengaruh kenaikan harga BBM bersubsidi terhadap industri relatif kecil. "Sektor industri tidak menggunakan BBM bersubsidi, tapi BBM industri," ujar Saleh di kantornya, Senin, 10 November 2014. (Baca: Analis: Kenaikan BBM Berdampak Hingga Akhir 2015)

    Menurut Saleh, dampak kenaikan harga BBM lebih dirasakan oleh sektor logistik. Selain itu, tutur dia, dampak lainnya saat terjadi kenaikan harga BBM adalah buruh akan meminta penyesuaian gaji.

    Karena itu, Saleh meminta pemerintah, pengusaha, dan buruh menjalin komunikasi yang baik mengenai kenaikan harga BBM. "Karena beban ini pada akhirnya akan ditanggung masyarakat berupa kenaikan harga barang," kata Saleh.

    Sebelumnya, pengamat dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Eni Sri Hartati, menganggap kenaikan harga BBM tak tepat dilakukan saat ini. Sebab, data yang dirilis Badan Pusat Statistik menggambarkan kondisi perekonomian masih lesu. “Pemerintah harus mengkalkulasikan data itu secara matang,” ujarnya.

    Hingga triwulan ketiga 2014, tutur Eni, tingkat pertumbuhan ekonomi nasional belum mampu menembus angka 5 persen. Lambannya aktivitas perekonomian disebabkan oleh kenaikan suku bunga, bahan bakar gas, dan tarif dasar listrik. Akibatnya, konsumsi masyarakat masih terfokus pada kebutuhan primer, khususnya pangan. (Baca: Soal Rapat Harga BBM, Ini Jawaban Kepala Bappenas)

    Penurunan daya beli masyarakat juga berakibat pada lesunya aktivitas para pelaku bisnis. Gambaran yang paling tegas terlihat pada kondisi industri tekstil. Menurut data BPS, kata Eni, pola konsumsi masyarakat cenderung mengalami penurunan. “Dalam enam bulan terakhir, tidak ada barang yang keluar dari gudang. Ini menunjukkan daya beli masyarakat anjlok,” ujarnya. (Baca: Rusia Tawarkan Minyak ke Indonesia)

    AMIRULLAH | RIKY F.

    Berita Terpopuler
    Di Beijing, Jokowi Sentil Kualitas Produk Cina
    Baghdadi, Pemimpin ISIS, Terluka Parah 
    Buat Onar di Jalan Tol Simatupang, 6 Suporter Bola Diperiksa


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Kantor dan Tempat Kerja

    BPOM melansir panduan penerapan new normal alias tatanan baru. Ada sembilan rekomendasi agar pandemi tak merebak di kantor dan tempat kerja.