Analis: Kenaikan BBM Berdampak Hingga Akhir 2015  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Tempo/Tommy Satria

    Tempo/Tommy Satria

    TEMPO.CO , Jakarta - Rencana kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) diperkirakan menghambat laju pertumbuhan ekonomi. Pengamat ekonomi, Purbaya Yudhi Sadewa, memperkirakan dampak itu masih akan terasa hingga November 2015. “Biasanya pertumbuhan akan melambat tiga triwulan setelah harga naik," kata dia kepada Tempo.(Baca: Menteri Jokowi Gelar Rapat, Bahas Harga BBM?.)

    Berdasarkan pengalaman, kata Yudhi, setiap 10 persen kenaikan harga BBM akan meningkatkan inflasi rata-rata 0,7 persen. Jika pemerintahan Jokowi menaikkkan harga hingga Rp3.000, maka inflasi akan mencapai 3,5 persen. “Dengan melihat kondisi sekarang, artinya angka inflasi nantinya ada dikisaran 8,5-9 persen,” ujarnya. (Baca: Effendi Simbolon Tolak Kenaikan Harga BBM).

    Yudhi mengatakan kenaikan inflasi merupakan konsekuensi dari penurunan daya beli masyarakat dan aktivitas para pelaku bisnis. Belanja rumah tangga yang naik pengeluaran untuk pangan dan transportasi. “Yang paling terpukul tentu saja masyakat menengah-bawah,” katanya. “Pemerintah harus menghitung dampak tersebut.”

    Untuk saat ini, kata Yudhi, kenaikan harga BBM yang ideal adalah Rp2.000 per liter. Angka itu dinilai cukup moderat agar tidak mempengaruhi tingkat inflasi yang terlalu tinggi. “Kemungkinan akan bergerak di kisaran 7-7,5 persen. Dan itu artinya perekonomian kita masih punya ruang untuk tumbuh,” katanya.

    RIKY FERDIANTO

    Berita Tepopuler
    Mendiang Manajer Cantik Ditemukan Nyaris Telanjang

    Pengakuan Blakblakan Pembunuh Manajer Cantik

    Motif Pembunuhan Manajer Cantik di Bekasi


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Realitas Versus Laporan Data Statistik Perkebunan Indonesia

    Laporan Data Statistik Perkebunan Indonesia 2017-2019 mencatat luas area perkebunan 2016 mencapai 11,2 juta hektare. Namun realitas berkata lain.