Minyak Mentah Turun Jadi US$ 83,72 Per Barel  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Minyak mentah dari pipa yang bocor milik GS Caltex Corp terlihat di lepas pantai Yeosu, sekitar 460 km di selatan Seoul, Korea Selatan, Jumat (31/1). REUTERS/Yeosu Maritime Police/Yonhap

    Minyak mentah dari pipa yang bocor milik GS Caltex Corp terlihat di lepas pantai Yeosu, sekitar 460 km di selatan Seoul, Korea Selatan, Jumat (31/1). REUTERS/Yeosu Maritime Police/Yonhap

    TEMPO.CO, Jakarta - Harga rata-rata minyak mentah Indonesia (ICP) selama Oktober 2014 tercatat US$ 83,72 per barel. Harga tersebut turun US$ 11,25 per barel dari semula US$ 94,97 per barel pada bulan sebelumnya.

    Minyak jenis minas Sumatera Light Crude (SLC), misalnya, dijual US$ 84,46 per barel atau turun US$ 11,2 per barel dibanding harga September 2014. (Baca: PDIP Belum Restui Jokowi Naikkan Harga BBM)

    Tim Harga Minyak Indonesia Direktorat Jenderal Minyak dan Gas bumi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menyatakan penurunan ICP ini sejalan dengan perkembangan harga minyak mentah utama di pasar internasional. "Sejumlah laporan menyebutkan adanya penurunan proyeksi permintaan minyak mentah dunia," demikian dikutip dari siaran pers Kementerian, Rabu, 5 November 2014.

    Berdasarkan laporan International Energy Agency (IEA) bulan Oktober 2014, proyeksi permintaan minyak mentah dunia memang turun menjadi 92,4 juta barel per hari. Permintaan tersebut lebih rendah 0,21 juta barel per hari dibanding proyeksi bulan sebelumnya yang sebesar 92,61 juta barel per hari. (Baca: ICP Turun, Harga BBM Bersubsidi Tetap Naik)

    Di sisi lain, laporan IEA juga menyebutkan, meski permintaan menurun, pasokan minyak justru meningkat. Pada September 2014, pasokan minyak mentah dunia meningkat 910 ribu barel per hari karena adanya peningkatan pasokan, baik dari negara-negara OPEC maupun non-OPEC.

    Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Naryanto Wagimin menuturkan penurunan ICP ini paling berpengaruh pada penerimaan negara. Apalagi lifting minyak dan gas bumi nasional diperkirakan tak bakal mencapai target. "Kalau lifting turun, harga turun, penerimaan negara sudah pasti turun. Begitu saja matematikanya," katanya, kemarin. (Baca: Kepala Daerah Setuju Harga BBM Naik)

    Namun Naryanto belum berhitung seberapa signifikan dampak penurunan harga ICP tersebut pada penerimaan negara. Sebab, hingga saat ini, pemerintah belum bisa memprediksi penurunan harga akan berlangsung sampai kapan.

    AYU PRIMA SANDI

    Berita Terpopuler
    Kata Jokowi, Informasi BIN Sering Meleset 
    Menteri ESDM Copot Dirjen Migas 
    Balas Dendam, Ayah Jepit Penis Pemerkosa Anaknya


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.