Pengusaha Roti Lirik Potensi Ubi  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pekerja membuat roti  di industri rumahan kawasan Kunciran, Tangerang, Banten  (10/9). Dampak kenaikan gas elpiji 12kg membuat pengusaha roti menaikan harga jual perbungkus Rp 2000 menjadi Rp 3000. TEMPO/Marifka Wahyu HIdayat.

    Pekerja membuat roti di industri rumahan kawasan Kunciran, Tangerang, Banten (10/9). Dampak kenaikan gas elpiji 12kg membuat pengusaha roti menaikan harga jual perbungkus Rp 2000 menjadi Rp 3000. TEMPO/Marifka Wahyu HIdayat.

    TEMPO.CO, Jakarta - Para pengusaha roti kini mulai mengincar ubi sebagai salah satu bahan baku produk roti. Ketua Asosiasi Pengusaha Bakery Indonesia, Chris Hardijaya, mengatakan, perusahaannya dan teman-temannya akan mulai membuat pabrik pengolahan ubi di beberapa wilayah di Indonesia. "Ubi ini bisa ditanam di mana saja. Asal perawatan dan pengolahannya benar, bisa sangat menguntungkan," kata Chris di Hotel Shangri-La Jakarta, Kamis, 23 Oktober 2014.

    Chris mengatakan pabrik pengolahan ubi ini rencananya dibangun di wilayah Sumatera dan Jawa. Dana investasi yang dikeluarkan Rp 15-20 miliar per pabrik. "Dengan pabrik ini, industri hulu ubi akan terangkat, sehingga menambah produktivitas dan nilai tambahnya," katanya. (Baca: Industri Roti Sangat Tergantung Gandum Impor )

    Ubi mulai dilirik pengusaha roti sebagai bahan pendukung pembuatan roti karena memiliki beberapa kelebihan. Chris mengatakan penggunaan ubi dapat menambah nutrisi dalam produk roti. Selain itu, tepung ubi membuat tekstur roti menjadi lebih lembut. Dan, yang paling penting, petani ubi dapat bernapas lebih lega. "Pembangunan pabrik ini sekaligus membantu petani ubi mempertahankan lapangan kerjanya," ujar Chris.

    Saat ini ubi kurang diminati industri roti karena harganya yang masih terlampau mahal. Harga ubi saat ini Rp 6.000-8.000 per kilogram. Sebab penggarapannya masih manual dan petani tak konsisten memproduksi ubi. (Baca:Gas LPG 12 Kg Naik, Produsen Roti Terancam)

    Karena itu, kata Chris, dibutuhkan teknologi lebih maju agar produksi ubi bertambah dan harganya turun. Dengan penggarapan yang modern, harga ubi dapat jauh lebih murah, sekitar Rp 2.000 per kilogram. "Target kami menaikkan produktivitas ubi dari 7 ton per hektare menjadi 30 ton per hektare," katanya.

    YOLANDA RYAN ARMINDYA


    Terpopuler:

    Djoko Kirmanto Mendadak Kumpulkan Pejabat PU
    Empat Sektor Ini Masih 'Seksi' untuk Investasi 
    Disebut Hambat Kabinet Jokowi, Ini Pembelaan PDIP 
    Cabai-cabaian Diramalkan Kerek Inflasi Oktober 
    Semen Indonesia Bikin Pembangkit Listrik Gas Buang  


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.