2015, Pasar Real Estate Asia Pasifik Bakal Moncer  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Maket pemukiman pada pameran Real Estate Ekspo di JCC, Jakarta, Senin (26/10). Penjualan pemukiman ramah lingkungan mengalami kenaikan dan diprediksi akan lebih tinggi antara 20-30 persen. TEMPO/Adri Irianto

    Maket pemukiman pada pameran Real Estate Ekspo di JCC, Jakarta, Senin (26/10). Penjualan pemukiman ramah lingkungan mengalami kenaikan dan diprediksi akan lebih tinggi antara 20-30 persen. TEMPO/Adri Irianto

    TEMPO.CO, Jakarta - Konsultan properti Jones Lang LaSalle (JLL) memperkirakan pertumbuhan bisnis real estate di Asia Pasifik pada 2015 akan melejit. JLL memprediksi volume transaksi mencapai US$ 200 miliar dari jumlah modal untuk investasi pada 2015.

    Head of Asia Pacific Capital Markets JLL Stuart Crow mengatakan, di seluruh Asia Pasifik, sejumlah besar dana ekuitas swasta mendekati jatuh tempo sehingga pasar akan mudah menyerap pelepasan modal tersebut. "Permintaan terus melebihi pasokan yang tersedia, dan tantangan terbesar yang dihadapi pasar adalah kekurangan pasokan produk yang investable," katanya melalui keterangan tertulis, Rabu, 22 Oktober 2014.

    JLL mencatat perkembangan volume transaksi, seperti Australia, Jepang, dan Korea Selatan, terus membaik. Sedangkan di Thailand, transaksi perdagangan diprediksi meningkat seiring dengan terciptanya stabilisasi setelah krisis politik yang berkepanjangan dan kudeta militer. Untuk di Indonesia, kegiatan investasi properti diperkirakan tidak ramai karena investor sedang menunggu kemampuan pemerintah baru untuk melaksanakan reformasi.

    Kepala Riset Asia Pacific Capital Markets JLL Megan Walters memperkirakan potensi modal tersebut juga berasal dari sumber seperti dana ekuitas swasta, dana pensiun, asuransi, dan dana pengembang. Jumlah tersebut diperkirakan terakumulasi sekitar US$ 200-250 juta, atau dua kali lebih banyak dari prediksi nilai transaksi tahun ini, US$ 130 miliar.

    Menurut dia, dengan berakhirnya kebijakan The Fed, bank sentral Amerika, atas program pelonggaran kuantitatif (QE), investor akan lebih berfokus pada strategi manajemen modal dan pemilihan aset mereka. Investor, kata Walters, mencari cara untuk mengimbangi risiko kenaikan suku bunga potensial dengan aktif mengelola investasi mereka untuk meningkatkan laba usaha atau hasil pelepasan. 

    JLL menyatakan volume transaksi pada kuartal ketiga tahun ini hanya naik 1 persen pada periode yang sama tahun lalu, US$ 30,3 miliar. Hingga akhir kuartal ketiga, volume transaksi tercatat US$ 85,2 miliar dan diproyeksikan mencapai US$ 120 miliar pada akhir tahun ini. Pencapaian jumlah total transaksi kuartal ketiga ini turun 5 persen dibandingkan periode sebelumnya.

    ALI HIDAYAT

    Berita Terpopuler
    Semalam, Jokowi Panggil 43 Calon Menteri 
    Fahri Sebut Jokowi Presiden yang Tak Pandai Pidato
    JK Coret Calon Menteri Bertanda Merah dari KPK  


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Menimbun Kalori Kue Lebaran, seperti Nastar dan Kastengel

    Dua kue favorit masyarakat Indonesia saat lebaran adalah nastar dan kastangel. Waspada, dua kue itu punya tinggi kalori. Bagaimana kue-kue lain?