Pengusaha Irak Jajaki Hubungan Dagang Indonesia

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua Delegasi Pengusaha Irak, Idan Odah Tamimi (tengah), dengan Dubes RI untuk Irak, Letjen TNI Mar (Purn) Safzen Noerdin (kanan), dalam pertemuan yang diselenggarakan Kedutaan Besar RI-Irak di, Jl. Kartini Raya, Jakarta, 9 Oktober 2014. (istimewa)

    Ketua Delegasi Pengusaha Irak, Idan Odah Tamimi (tengah), dengan Dubes RI untuk Irak, Letjen TNI Mar (Purn) Safzen Noerdin (kanan), dalam pertemuan yang diselenggarakan Kedutaan Besar RI-Irak di, Jl. Kartini Raya, Jakarta, 9 Oktober 2014. (istimewa)

    TEMPO.CO, Jakarta - 75 pengusaha Irak datang ke Indonesia dalam pertemuan bisnis pengusaha Irak Indonesia untuk menjajaki bisnis antara Indonesia dan Irak.

    Kedatangan pengusaha dari Irak ini, dalam rangka menjalin hubungan kerjasama dalam bidang perdagangan, sekaligus menghadiri pembukaan Pameran Trade Expo 2014 di Kemayoran pada 8 hingga 12 Oktober 2014.

    Pertemuan bisnis ini digelar dalam acara One on One Meeting, pertemuan bisnis antara pengusaha Indonesia dan Irak, diselenggarakan Kedutaan Besar RI-Baghdad, Irak, di Swissbell Hotel, Jakarta Pusat, pada Kamis 9 Oktober 2014.

    "Dubes RI harus jadi sales, harus bisa jualan," kata duta besar RI untuk Irak, Letjen TNI Mar (Purn) Safzen Noerdin. Menurut Safzen, penjajakan hubungan bisnis ini dilakukan dengan mempertemukan pengusaha Irak  dengan pengusaha  UKM dari KADIN Indonesia. "Mereka yang datang memang bukan pengusaha  besar sekali, dengan cara seperti ini saya membuka hubungan dagang dengan cara-cara sederhana tapi mengena," katanya.(Baca : Irak Minta Amerika Suntik Investasi)

    "Pengusaha Irak injdari beberapa wilayah di Irak, seperti, Baghdad, Basra, Najav, Erbil, dan beberapa daerah yang lainnya yang non konflik,"jelasnya. "Bagaimana caranya ke depan barang-barang produk-produk kita bisa banyak masuk ke Irak," kata Safzen.

    Saat ini nilai investasi Indonesia di Irak masih kecil. Karena, selama ini barang-barang Indonesia tidak langsung masuk ke Irak, tapi ke Dubai. "Jadi barang tercatat untuk Dubai, bukan untuk Irak."

    Produk apa yang dibutuhkan Irak diantaranya, ban mobil, aksesoris, spare part mobil, makanan, pakaian jadi, teksil, furniture dan mesin pabrik roti.

    "Peluang berbisnis di Irak, sangat terbuka. Perlu diketahui Irak  hanya ada pasir dan minyak. Semua produk impor. Dan mereka dekat dengan Turki, dan yang paling aktif Cina,serta Korea untuk otomotifnya," kata Safzen. Menurut Safzen, Irak selalu mengatakan, kenapa Indonesia punya umat muslim besar, tidak mau ambil dollar dari Irak. Malah orang-orang bule yang malah ke sini. (Baca : Yordania Tawarkan Investasi di Sektor Infrastruktur)

    Presiden terpilih Joko Widodo juga meminta agar para duta besar Indonesia di seluruh dunia, tidak hanya selalu membahas diplomasi politik antara kedua negara, tetapi harus juga sebagai sales produk-produk Indonesia.

    Harapan kedepannya, Safzen ingin barang produksi Indonesia  bisa langsung ke Irak.
    Ketua Delegasi Pengusaha Irak, dan Odah Tamimi mengatakan, mereka datang ingin melihat barang-barang produksi Indonesia.  Untuk kedepannya kami bisa bekerjasama.

    "Kami ingin melakukan hubungan baik dengan Indonesia, karena sesama muslimin kita bersaudara dan kita ingin lebih erat lagi antara Irak dengan Indonesia terutama dalam menjalankan kerjasama seperti ini."

    EVIETA FADJAR

    Berita Terpopuler
    Kurs Rupiah Loyo, Garuda Merugi 
    Pecat Buruh, Gudang Garam Bantah Beralih ke Mesin
    Kurs Rupiah Bertahan di Level 12.222
    SKK Migas Akan Ringkas 289 Izin Eksplorasi  

     


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.