ADB Optimistis Jokowi-JK Mampu Perbaiki Ekonomi

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO/Dasril Roszandi

    TEMPO/Dasril Roszandi

    TEMPO.CO, Jakarta - Asian Development Bank optimistis pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla mampu memperbaiki ekonomi Indonesia tahun depan. ADB memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan mencapai 5,8 persen pada 2015. (Baca: ADB Revisi Prediksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia)

    "Harapan terhadap reformasi kebijakan yang akan datang, dapat memperbaiki iklim investasi, birokrasi, serta mempercepat pembangunan infrastruktur, selain itu meningkatkan prospek pertumbuhan ke depan," kata Deputy Country Director ADB Edimon Ginting di Jakarta, Kamis, 25 September 2014. (Baca: ADB: Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 5,7 Persen)

    Tambahan 0,5 persen pertumbuhan ekonomi, kata Edimon, berdasarkan perkiraan membaiknya perekonomian berbagai negara industri utama, yang diharapkan memicu ekspor dan investasi. Pertumbuhan konsumsi swasta diproyeksikan bakal tetap kuat. Musababnya, inflasi yang lebih rendah akan mendukung konsumsi tahun ini. Pemerintah diperkirakan akan menggunakan kebijakan transfer dana untuk mengompensasi kelompok berpenghasilan rendah yang terdampak oleh kenaikan harga bahan bakar minyak pada 2015.

    Investasi swasta juga diprediksi membaik. Berhasilnya proses pemilihan umum, membuat pemerintah baru diyakini dapat mereformasi kebijakan. "Pertumbuhan pinjaman investasi akan tetap tinggi 30 persen meskipun kebijakan moneter diperketat," kata Edimon.

    TRI ARTINING PUTRI

    Berita Terpopuler
    Wartawati Tempo Dilecehkan Simpatisan FPI
    FPI Minta Ahok Jaga Mulut
    Soal Gantung Diri di Monas, Anas: Siapa Bilang?
    Adnan Buyung: Jaksa Penuntut Anas Bodoh
    6 Orang Mati, Vonis Anas, dan Skandal Hambalang


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Drone Pemantau Kerumunan dari Udara selama Wabah Covid-19

    Tim mahasiswa Universitas Indonesia merancang wahana nirawak untuk mengawasi dan mencegah kerumunan orang selama pandemi Covid-19.