Pemerintah-DPR Sepakati Postur RAPBN 2015  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah anggota dewan, duduk diantara bangku kosong karena banyak anggota yang meninggalkan ruangan saat berlangsungnya rapat paripurna, di Gedung MPR/DPR, Jakarta, Kamis (24/5). Dalam rapat tersebut Pemerintah mengusulkan memasukkan asumsi lifting gas pada 2013 sebesar 1.290-1.360 juta barel ekuivalen minyak per hari (mboepd) ke dalam asumsi makro Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2013. TEMPO/Imam Sukamto

    Sejumlah anggota dewan, duduk diantara bangku kosong karena banyak anggota yang meninggalkan ruangan saat berlangsungnya rapat paripurna, di Gedung MPR/DPR, Jakarta, Kamis (24/5). Dalam rapat tersebut Pemerintah mengusulkan memasukkan asumsi lifting gas pada 2013 sebesar 1.290-1.360 juta barel ekuivalen minyak per hari (mboepd) ke dalam asumsi makro Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2013. TEMPO/Imam Sukamto

    TEMPO.CO, Jakarta - Badan Anggaran Dewan Perwakilan Rakyat dan pemerintah menyepakati postur sementara Rancangan Anggaran Pendapatan Belanja Negara 2015. Komponen yang disepakati meliputi pendapatan, belanja, surplus defisit anggaran, defisit terhadap produk domestik bruto, dan pembiayaan. (Baca juga: Subsidi Listrik Tahun Ini Turun Rp 25,5 Triliun)

    Pelaksana Tugas Kepala Badan Kebijakan Fiskal Andin Hadiyanto membacakan pendapatan negara disepakati Rp 1.793,6 triliun. Jumlah itu terdiri atas penerimaan pajak Rp 1.380 triliun, penerimaan negara bukan pajak Rp 410,3 triliun, dan hibah Rp 3,3 triliun. "Defisit anggaran disepakati Rp 245,9 triliun atau 2,21 persen dari PDB," kata Andin di kompleks parlemen Senayan, Senin, 22 September 2014 malam.

    Untuk belanja negara disepakati Rp 2.039,5 triliun dengan belanja kementerian/lembaga sebesar Rp 601,1, belanja non-kementerian/lembaga Rp 791,4 triliun, dan transfer ke daerah dan dana desa sebesar Rp 647 triliun. (Baca juga: 2015, Subsidi Energi Dijatah Rp 344,7 Triliun)

    Untuk asumsi makro yang disepakati meliputi pertumbuhan ekonomi 5,8 persen. Angka ini naik dari usulan pemerintah dalam nota keuangan, yaitu 5,6 persen. Inflasi disepakati sebesar 4,4 persen. Nilai tukar rupiah disepakati pada angka 11.900 per dolar AS.

    Harga minyak mentah Indonesia (ICP) disepakati pada harga US$ 105 per barel. Dari sektor energi, lifting (produksi minyak siap jual) minyak disepakati 900 ribu barel per hari dan lifting gas 1.248 ribu barel setara minyak per hari. Volume konsumsi bahan bakar minyak bersubsidi ditetapkan 46 juta kiloliter.

    Angka ini sama dengan APBN-P 2014. Padahal, pemerintah mengusulkan 48 juta kiloliter pada nota keuangan. Postur ini selanjutnya akan dibawa ke pembahasan tingkat dua dalam sidang paripurna sebelum 1 Oktober 2014.

    TRI ARTINING PUTRI

    Terpopuler
    Akhirnya, Jokowi Bocorkan Nama Kabinetnya
    Golkar Terbelah Hadapi Voting RUU Pilkada
    PDIP: Koalisi dengan PAN dan PPP Sudah Final
    Resmi, Demokrat Dukung Pilkada Langsung
    Gadis Ini Dipaksa Ibunya Tidur dengan 1.800 Pria


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kemenag Berikan Pedoman Berkegiatan di Rumah Ibadah saat Pandemi

    Kementerian Agama mewajibkan jemaah dan pengurus untuk melaksanakan sejumlah pedoman ketika berkegiatan di rumah ibadah saat pandemi covid-19.