BI: Isu Global Terus Lemahkan Rupiah

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO/Eko Siswono Toyudho

    TEMPO/Eko Siswono Toyudho

    TEMPO.CO , Jakarta - Direktur Departemen Komunikasi Bank Indonesia Peter Jacobs mengatakan ada beberapa isu global yang bisa memperlemah rupiah. Salah satu yang paling kuat adalah kekhawatiran terhadap keputusan rapat bank sentral Amerika (Federal Open Market Committee/FOMC) untuk menaikkan suku bunga.

    Menurut Peter, FOMC pada pekan ketiga September 2014 bisa menguatkan kurs dolar terhadap mata uang dunia. "Penguatan dolar di pasar global ini membuat nilai tukar rupiah terus terkoreksi," kata dia di kantornya, Selasa, 16 September 2014. (Baca juga: Saham-saham Pencetak Rugi)

    Selain isu dari Amerika, rencana pemisahan Skotlandia dari Inggris juga turut berpengaruh terhadap melemahnya rupiah. Namun, kata dia, hal tersebut masih bersifat sementara sehingga kemungkinan besar rupiah akan kembali pada pola pergerakan normal. (Baca juga: Pasar Kecewa terhadap Susunan Kabinet Jokowi)

    Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia Tirta Segara mengatakan selain dua hal sentimen global tersebut, normalisasi kebijakan moneter Bank Sentral Amerika Serikat atau The Fed membuat pelaku pasar tertarik berinvestasi di Amerika. Selain itu, ada sentimen negatif dari negara berkembang berupa diturunkannya peringkat utang (sovereign rating) Brasil. "Efeknya, bisa dilihat bahwa seluruh mata uang regional saat ini dalam tren melemah." (Baca juga: Tiga Agenda Prioritas Jokowi Menurut Ekonom RBS)

    Saat ini kurs rupiah berada di level 11.971,3 per dolar Amerika Serikat. Analis dari PT Monex Investindo Futures Zulfirman Basir mengatakan penguatan dolar sedikit tertahan menjelang rapat FOMC. "Muncul ekspektasi di kalangan investor bahwa bank sentral Amerika akan mengeluarkan pernyataan yang lebih menenangkan," kata dia.

    AISHA SHAIDRA

    Berita Terpopuler
    Begini Arsitektur Kabinet Jokowi-JK
     
    Pengamat: Kabinet Jokowi Lebih Reformis dari SBY
    Kepergok Saat Bercinta, Wanita Ini Pukuli Petugas


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Arti Bilangan R(0) dan R(t) untuk Menerapkan New Normal

    Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Suharso Monoarfa mengatakan bahwa suatu daerah dapat melaksanakan New Normal bila memenuhi indikator R(0).