IHSG Loyo, Saham-saham Ini Bisa Jadi Andalan  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seseorang melintas di depan layar indeks harga saham di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, 7 Juli 2014.  TEMPO/Tony Hartawan

    Seseorang melintas di depan layar indeks harga saham di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, 7 Juli 2014. TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Saham-saham perbankan masih menjadi pendorong kenaikan indeks harga saham gabungan (IHSG) pada perdagangan hari ini. Equity Analis dari Asia Financial Network, Agus Susanto, mengatakan, secara sektoral, saham emiten sektor perbankan terutama big cap masih akan menjadi pendorong utama indeks.

    Hal ini berlaku hingga kebijakan normalisasi oleh bank sentral Amerika Serikat pada awal tahun nanti. (Baca: IHSG Terancam Aksi Ambil Untung.) “Sektor perbankan masih didominasi oleh beberapa emiten unggulan, seperti BBRI, BMRI, dan BBCA,” kata Agus, Selasa, 9 September 2014.

    Selain perbankan, saham lainnya yang cukup moncer adalah kelapa sawit. Harga sawit yang tahun ini lebih tinggi dari tahun lalu dan volume produksi yang meningkat membuat pendapatan dan laba lima saham terbesar sawit bergerak naik. Lima emiten yang dimaksud adalah AALI, SMAR, SSMS, LSIP, dan SIMP. (Baca: Kembalinya Investor Asing Jadi Amunisi IHSG)

    Senin, 8 September 2014, indeks menembus level tertinggi 5.262,57. Adapun pada Selasa, 9 September 2014, IHSG melemah 49,36 poin (-0,94 persen) pada level 5.197,12 poin. (Baca: IHSG Masih Rentan Terkoreksi)

    Selain perkebunan dan perbankan, Kepala Riset KSK Financial Group David Cornelis mengatakan saham emiten pada sektor infrastruktur, pertambangan, dan konsumen layak dikoleksi. Alasannya, pergerakan teknikal, fundamental, dan likuiditas emiten sektor-sektor tersebut cukup bagus. Dengan posisi IHSG yang melemah, sebaiknya investor hanya berposisi pada saham-saham berkapitalisasi besar untuk meminimalkan risiko.

    David mengatakan yang perlu diwaspadai adalah kenaikan IHSG yang menembus rekor baru tapi tak didukung penuh oleh saham-saham berkapitalisasi besar. “Artinya, investor perlu waspada ketika saham-saham bluechips tidak menembus rekor yang baru juga,” kata David, Selasa, 9 September 2014.

    Justru yang menembus rekor baru adalah saham-saham lapis kedua dan ketiga. Ini merupakan sinyal negatif agar investor lebih waspada terhadap koreksi mendatang yang cukup besar.

    FAIZ NASHRILLAH

    Berita Terpopuler
    Temui Mega, Risma Tak Bersedia Jadi Menteri Jokowi
    PKS Blunder Usung Pilkada Tak Langsung
    Ketemu Sudi Silalahi, Rini Minta Maaf
    Demi Prabowo, PKS Setuju Pilkada Lewat DPRD
    Jokowi: RUU Pilkada Potong Kedaulatan Rakyat


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.