CPO Dicekal Rusia, RI Siap Banding  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Aktivitas bongkar muat minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta. TEMPO/Aditia Noviansyah

    Aktivitas bongkar muat minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta. TEMPO/Aditia Noviansyah

    TEMPO.CO, Jakarta - Juru bicara PT Musim Mas, Togar Sitanggang, akan mengajukan banding ke sidang World Trade Organization (WTO) terkait dengan pencekalan Rusia terhadap minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) asal Indonesia. Menurut Togar, keluhan Rusia terhadap kadar peroksida CPO asal Indonesia sebesar 0,9 persen merupakan bentuk hambatan perdagangan secara teknis (technical barier to trade). "Tindakan tersebut tidak benar," ujar Togar kepada Tempo, Senin, 8 September 2014. (Baca: Rusia Cekal Minyak Kelapa Sawit Indonesia)

    Pengajuan banding ini berkaitan dengan tindakan Rusia pada April 2014. Saat itu, Rusia memberikan notifikasi kepada WTO yang menyatakan syarat kadar peroksida CPO asal Indonesia harus 0,9 persen saat tiba di tujuan.

    Menurut Togar, Rusia memang tidak menolak secara langsung CPO asal Indonesia. Namun permintaan ini dinilai Togar sebagai bentuk halangan karena seperti meminta hal yang mustahil. Untuk itu, Indonesia akan mengajukan banding pada Oktober atau awal November 2014 ke markas WTO di Jenewa, Swiss. "Mereka (Rusia) tidak bisa melakukan hal ini," ujar Togar. (Baca: Kemendag: Eropa Tanggapi Positif CPO Indonesia)

    Togar menduga tindakan itu dilakukan Rusia agar bisa mengimpor CPO dari negara yang jaraknya lebih dekat, seperti Belanda, agar biayanya lebih murah. Menurut dia, pihak Rusia mengetahui Indonesia tidak mungkin memenuhi persyaratan soal kadar peroksida, mengingat kandungan zat tersebut sudah mencapai 5 persen. Setelah tiba di Rusia, kadar peroksida bisa meningkat 8-9 persen. "Padahal kadar peroksida CPO asal Indonesia sudah memenuhi standar internasional, yakni 5 persen." (Baca: Pemerintah Beri Penjelasan Ihwal Pengelolaan Sawit ke UE)

    Untuk meminimalkan dampak pelarangan ekspor ke Rusia, Togar mengatakan para pengusaha kini bersiap mencari pembeli baru. Selain itu, pengusaha yang bisa membangun pabrik pengolahan CPO di luar negeri bisa mengoptimalkan produksi karena kadar peroksidanya bisa lebih rendah. Togar memperkirakan pencekalan produk CPO akan membawa dampak buruk bagi perdagangan Indonesia dan Rusia. 

    SAID HELABY | YOLANDA ARIMINDYA


    Berita Terpopuler
    PDIP-Jokowi Tak Berkutik di Depan Koalisi Prabowo  
    Identitas Jack the Ripper Akhirnya Terungkap
    Meliuk di Antara Pinus Manglayang


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.