Bensin Berangsur Normal, Pedagang Eceran Kecewa  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Antrian kendaraan roda dua dan derijen milik warga yang mengantri mendapatkan0 bahan bakar minyak bersubsidi jenis premium dan solar di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum Paku Haji, Kabupaten Tangerang Banten (27/8). TEMPO/Marifka Wahyu Hidayat

    Antrian kendaraan roda dua dan derijen milik warga yang mengantri mendapatkan0 bahan bakar minyak bersubsidi jenis premium dan solar di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum Paku Haji, Kabupaten Tangerang Banten (27/8). TEMPO/Marifka Wahyu Hidayat

    TEMPO.COKediri -- Setelah beberapa hari mengalami kelangkaan, mulai hari ini distribusi bahan bakar minyak di Kota Kediri, Jawa Timur, berangsur normal. Namun, para pedagang eceran yang sempat mematok harga Rp 10 ribu per botol kecewa karena keuntungan mereka anjlok.

    Sejak pagi sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di wilayah Kota Kediri mulai lengang. Tidak ada lagi antrean pembeli yang mengular seperti hari sebelumnya. Walaupun antrean telah mencair, beberapa SPBU masih dijaga polisi. "Hari ini tidak ada antrean panjang," kata Frida Zahnia, pengendara sepeda motor yang mengisi Premium di SPBU Jalan Joyoboyo, Rabu, 3 September 2014.

    Hal serupa juga terjadi di SPBU lain di wilayah Kota Kediri yang sehari sebelumnya masih padat oleh antrean kendaraan. Normalnya pasokan BBM secara tidak langsung berdampak pada omzet pedagang eceran. (Baca berita lain: Kuota BBM Bersubsidi Bisa Ditambah, Asal...)

    Mereka menurunkan harga jualnya dari Rp 10 ribu menjadi Rp 8 ribu per botol. Bahkan, sebagian besar pedagang membanting harga sampai Rp 7 ribu per liter. Meski telah menurunkan harga, banyak pengendara motor yang enggan datang ke kios bensin eceran. 

    Mereka umumnya memilih menuju SPBU yang tak lagi antre dengan harga dasar Rp 6.500 per liter. Hal ini membuat para pedagang eceran terpaksa memasang tulisan harga Rp 7 ribu  untuk menarik perhatian pembeli. "Biar tidak dikira masih Rp 10.000," kata Subandi, pedagang eceran di kawasan Bundaran Sekartaji.

    Saat BBM langka, para pedagang eceran meraup keuntungan luar biasa. Mereka mematok harga Rp 10 ribu per botol. Padahal, takaran bensin tersebut tidak sampai satu liter. Namun seiring normalnya distribusi BBM, para pedagang eceran tak punya pilihan selain menurunkan harga.

    Turunnya harga bensin di tingkat pengecer disambut antusias warga, khususnya pengendara sepeda motor. Sebab, keberadaan pedagang eceran ini sangat membantu di jalur yang jauh dari SPBU. Karena tidak punya pilihan, mereka terpaksa merogoh kocek cukup dalam untuk membuat mesin motor tetap menyala. (Baca juga: Jokowi Putuskan Nasib Harga BBM di Akhir Tahun)

    HARI TRI WASONO

    Baca juga:
    KPK: Jero Wacik Segera Jadi Tersangka
    Soal Skandal Asusila, Ini Pengakuan Gubernur Riau
    Ini Alasan Pemindahan Makam Nabi Muhammad
    Misteri Batu Berjalan di Lembah Kematian Terkuak
    Pendiri Golkar Cap Agung Laksono Pengkhianat

     


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pemprov DKI Putuskan Kalender Pendidikan Mulai 13 Juli 2020

    Pemprov DKI Jakarta menetapkan kalender pendidikan 2020/2021 dimulai 13 Juli 2020 dan selesai di Juni 2021. Pada Juli 2021, masuk kalender berikutnya.