Inflasi Surabaya Tertinggi di Jawa Timur  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Patung Sura dan Baya di Surabaya. Dok. TEMPO/Darmaji

    Patung Sura dan Baya di Surabaya. Dok. TEMPO/Darmaji

    TEMPO.CO, Surabaya - Dibanding delapan kota besar di Jawa Timur, Surabaya mengalami inflasi tertinggi sebesar 0,50 persen. Inflasi itu melampaui besaran inflasi Jawa Timur, yakni 0,37 persen. Badan Pusat Statistik Jawa Timur menilai tingkat inflasi Surabaya sebagai hal yang tak biasa, mengingat ibu kota provinsi ini termasuk baik dalam mengendalikan inflasi.

    "Ada dua faktor yang memicu, yakni kenaikan tarif listrik dan biaya kebutuhan sekolah," kata Kepala BPS Jatim M. Sairi Hasbullah di kantornya, Senin, 1 September 2014.

    Kenaikan tarif dasar listrik menyumbang inflasi Surabaya sebesar 0,1365 atau sekitar 26 persen. Sebab, kenaikan tarif dasar listrik reguler sebesar 11 persen untuk R-3/TR di atas 2.200 VA pada  Agustus 2014 cukup mempengaruhi. "Penggunaan listrik masyarakat Surabaya cenderung lebih tinggi dibanding kota-kota lainnya. Pendapatan orang Surabaya juga relatif tinggi," ujar Sairi.

    Peningkatan biaya pendidikan turut memberikan andil terhadap inflasi Kota Surabaya sebesar 0,0931 atau sekitar 4 persen. "Agustus memang musimnya sekolah."

    Tingkat inflasi Kota Malang menempati urutan kedua setelah Surabaya, yakni 0,47 persen, disusul Madiun (0,35 persen), Sumenep (0,31 persen), Probolinggo (0,07 persen), dan terendah Kediri (0,06 persen).

    Di sisi lain, menjelang rencana pengurangan subsidi bahan bakar minyak, Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini mengimbau masyarakat untuk menanam tanaman di rumah guna mencegah tingginya inflasi. Untuk itu, Pemerintah Kota Surabaya menyediakan bibit dan tanaman yang bisa dimanfaatkan warga di rumah masing-masing.

    Menurut Sairi, ide Risma tersebut bisa menjadi alternatif. "Saya tidak bisa mengatakan itu efektif atau tidak, tapi ada potensi untuk mengendalikan inflasi," ujarnya. (Baca berita yang dimaksud: Ini Cara Risma Antisipasi Kenaikan Harga BBM)

    Sayur-sayuran, tutur Sairi, berkontribusi sekitar 65-70 persen pada konsumsi masyarakat. "Jika warga, terutama yang miskin, diajak untuk memenuhi sendiri kebutuhan sayurannya, bisa berdampak cukup signifikan."

    ARTIKA RACHMI FARMITA


    Terpopuler 
    Twitter Garap Proyek Penanggulangan Banjir Jakarta  
    Menteri Chatib Tak Rela Subsidi BBM untuk Si Kaya  
    Saham Pertambangan Masih Jadi Incaran
    Kelangkaan BBM karena Pemerintah Dikunci DPR  
    Harga Emas Antam Turun Rp 1.000  
    Chatib Basri Usulkan Angka Subsidi BBM Dipatok  


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.