Pertamina Diminta Distribusikan BBM Lebih Merata

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang petugas kepolisian menjaga SPBU yang berada di jalur Pantura, Tegal, Jateng, 26 Agustus 2014. Sejumlah  SPBU dijaga anggota kepolisian untuk mengantisipasi kesemrawutan pengendara yang antre pengisian BBM. ANTARA/Oky Lukmansyah

    Seorang petugas kepolisian menjaga SPBU yang berada di jalur Pantura, Tegal, Jateng, 26 Agustus 2014. Sejumlah SPBU dijaga anggota kepolisian untuk mengantisipasi kesemrawutan pengendara yang antre pengisian BBM. ANTARA/Oky Lukmansyah

    TEMPO.CO, Jakarta - Wakil Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro mengingatkan PT Pertamina (Persero) agar melakukan pendistribusian bahan bakar minyak (BBM) secara merata sehingga antrean dan kelangkaan yang dikeluhkan masyarakat tidak terulang. "Supaya tidak terlalu ketat seperti sekarang," ujar dia di kantornya, Jumat, 30 Agustus 2014.

    Menurut Bambang, pengetatan alokasi sebagai bagian penghematan BBM yang dilakukan pemerintah saat ini semestinya dibarengi dengan pendistribusian penyaluran yang disesuaikan dengan kebutuhan wilayahnya. "Saya pikir yang kemarin heboh itu karena mungkin terlalu ekstra ketat. Tapi kita harus lihat banyak juga SPBU tidak ada apa-apa," kata dia.

    Penghematan untuk menjaga kuota 46 juta kiloliter memang tidak bisa dielakkan oleh pemerintah. Namun, kata Bambang, Pertamina selaku operator bisa menghitung dengan matang pendistribusian yang dilakukan. "Manajemen distribusinya lebih bagus. Buktinya banyak SPB yang tidak apa-apa. Berarti ada yang salah dalam konteks alokasi itu," ujarnya.

    Ia menyatakan kuota yang telah disepakati pemerintah dan parlemen dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBNP) 2014 tidak bisa diubah dalam waktu dekat. Meskipun diakuinya upaya perubahan perundang-undangan (perpu) bisa mengubah aturan itu. "Yah, perpu tidaklah mudah. Perpu, kan, harus izin DPR juga akhirnya, bisa menimbulkan keriuhan yang tidak perlu," kata dia.

    Selain pihak Pertamina, Bambang mengingatkan agar masyarakat tidak mudah panik terhadap setiap langkah penghematan yang dilakukan pemerintah. "Dalam artian jangan beli BBM subsidi sebanyak-banyaknya. Beli sesuai kebutuhan lah," pintanya. Seperti diketahui penghematan yang super ketat menyebabkan BBM bersubsidi langka dan terjadi antrean di sejumlah tempat.

    Di Yogyakarta, setelah hampir sepekan masyarakat mengalami kepanikan akibat pembatasan jatah BBM, mulai Jumat, 29 Agustus 2014, kondisi penyaluran BBM baru benar-benar terpantau normal. Di wilayah Kota Yogyakarta, sejak penjatahan BBM kepada SPBU dicabut oleh Pertamina melalui surat edarannya pada Selasa petang, 26 Agustus 2014, antrean kendaraan bermotor tak lagi sampai meluber ke jalanan.

    Di kawasan Jalan Kusumanegara, misalnya. Di SPBU yang dikelola PT Dian Pratama, yang termasuk SPBU paling padat di bagian tengah Kota Yogyakarta, antrean kendaraan bermotor saat jam sibuk pagi hari hanya mengular tak sampai seratus meter. Begitu pula dengan SPBU di kawasan tengah Kota Yogya lain, seperti SPBU Lempuyangan, yang antreannya justru hanya berapa gelintir saja. "Warga sudah tak ada yang antre di jalur Pertamax lagi karena Premiumnya sangat mencukupi," ujar M. Bashory, petugas SPBU Kusumanegara, kepada Tempo.

    Suasana berbeda terlihat di Kendari, Sulawesi Tenggara. Kendaraan mengantre lama untuk membeli BBM. Antrean mencapai satu kilometer terlihat di SPBU Tapak Kuda Bypass. Antrean terjadi sejak pukul 05.00 Wita sampai siang.

    Para sopir pun mengeluhkan bukan hanya karena harus antre, tapi juga karena adanya pembatasan pengisian BBM. Jika sebelumnya para sopir mobil itu bisa mengisi solar sampai ratusan liter, kini mereka dibatasi sampai 80 liter saja. "Saya sejak pagi mengantre. Tapi karena panjang begini, kayaknya tidak dapat lagi solar," kata Deni, sopir truk.

    Petugas SPBU mengakui pembatasan ini karena adanya pengurangan pasokan solar. Jika sebelumnya jatah solar per harinya sekitar 8000 liter, kini berkurang 6000 liter. "Banyak antrean karena kita cepat kehabisan," kata Anti, petugas SPBU Tapak Kuda.

    JAYADI SUPRIADIN |  PRIBADI WICAKSONO | ROSNIAWANTY FIKRI

    Berita Lainnya
    Sempat Ditolak Prabowo, Suhardi Malah Dapat Pajero
    Prabowo Pilih Suhardi karena Kloset Jongkok
    Ajukan Konsep Gerindra, Suhardi Ditolak Prabowo
    Mertua Anas dapat Salam Tempel Soeharto Semiliar
    Hina Warga Yogya, Florence 'Ratu SPBU' Menyesal

     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.