Kuota BBM Berpotensi Jebol 1,35 Juta Kiloliter

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang pekerja Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) duduk di tempat pengisian Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Solar yang habis di SPBU Tamanan Kota Kediri, Jawa Timur, 25 Agustus 2014.  SPBU di wilayah Kota Kediri kehabisan BBM Jenis Solar sejak Ahad (24/8). ANTARA/Rudi Mulya

    Seorang pekerja Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) duduk di tempat pengisian Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Solar yang habis di SPBU Tamanan Kota Kediri, Jawa Timur, 25 Agustus 2014. SPBU di wilayah Kota Kediri kehabisan BBM Jenis Solar sejak Ahad (24/8). ANTARA/Rudi Mulya

    TEMPO.CO, Jakarta - PT Pertamina (Persero) menyatakan ada potensi kuota bahan bakar minyak (BBM) subsidi pada tahun 2014 jebol. Alasannya, mulai kemarin malam, kebijakan pengendalian penyaluran kuota harian BBM bersubsidi di SPBU dihentikan.

    Direktur Pemasaran dan Niaga Pertamina Hanung Budya mengatakan, berdasarkan penghitungan Pertamina, potensi kelebihan kuota BBM bersubsidi mencapai 1,35 juta kiloliter (KL). "Kalau kuota tidak ditambah dan kita do nothing, hitungan kami, Premium dan solar habis sekitar Desember," katanya di Bandara Halim Perdana Kusuma, Rabu, 27 Agustus 2014.

    Hanung menjelaskan, awalnya tahun ini Pertamina menyalurkan BBM bersubsidi sesuai dengan amanat APBN 2014, yakni sebesar 48 juta KL. Kuota tersebut termasuk bagian Pertamina sebesar 47,04 juta KL. Belakangan, APBN Perubahan 2014 memangkas kuota tersebut menjadi 46 juta KL, dengan jatah Pertamina berkurang menjadi 45,35 juta KL. "Rinciannya, Premium 29,29 juta KL; solar 15,16 juta KL; dan kerosin atau minyak tanah sebesar 900 ribu KL," ujarnya.

    Berdasarkan data Pertamina, kebutuhan rata-rata Premium yang disalurkan oleh Pertamina hingga akhir Juli mencapai 81.132 KL, sedangkan solar 42.207 KL. Dengan kuota yang tersisa, kuota harian Premium dan solar masing-masing hanya 80.240 KL dan 41.452 KL. "Artinya, ada defisit kuota yang sangat mengkhawatirkan," ujar Hanung.

    Padahal kebijakan Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi berupa larangan penjualan Premium di SPBU di jalan tol, larangan penjualan solar di Jakarta Pusat, dan pengurangan pasokan BBM bagi nelayan sebesar 20 persen tidak efektif. Dengan demikian, jika tidak ada kebijakan apa pun dari pemerintah, Premium dan solar akan habis sebelum waktunya. "Premium pada 20 Desember dan solar awal Desember."

    Seperti diketahui, sesuai dengan arahan pemerintah, Pertamina kini menormalisasi pasokan BBM bersubsidi kepada masyarakat agar tidak terjadi potensi antrean yang berkepanjangan. Kemarin, Vice President Corporate Communication Pertamina Ali Mundakir mengatakan normalisasi sudah dimulai malam tadi, Selasa, 26 Agustus 2014.

    AYU PRIMA SANDI

    Berita Terpopuler:
    Lusa, PTUN Akan Jatuhkan Vonis Gugatan Prabowo 
    Nazaruddin: Nova Riyanti Juga Istri Anas 
    Kritik Ahok: Jokowi Lelet Ambil Keputusan 
    Golkar Terancam Ditinggal Koalisi Pendukung Jokowi
    Penolakan Tifatul di Medsos, PKS: Alasannya Apa? 
    Ahok Diminta Waspadai Serangan PKS  


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Arti Bilangan R(0) dan R(t) untuk Menerapkan New Normal

    Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Suharso Monoarfa mengatakan bahwa suatu daerah dapat melaksanakan New Normal bila memenuhi indikator R(0).