Angkutan di Samarinda Kehilangan Jatah BBM Subsidi  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pengumuman di sebuah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) bertuliskan

    Pengumuman di sebuah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) bertuliskan "mohon maaf SPBU ini tidak menjual premium bersubsidi" di rest area kilometer 13,3 tol Tangerang-Merak, Banten, Sabtu 9 Agustus 2014. Kepala Badan Pengatur Kegiatan Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) Andy Noorsaman Sommeng mengaku kebijakan pengendalian Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi yang berjalan beberapa hari memberikan dampak baik, di mana mampu meningkatkan konsumsi BBM non subsidi. TEMPO/Aditia Noviansyah

    TEMPO.CO, Samarinda - Pengusaha angkutan umum di Samarinda, Kalimantan Timur, mulai mengeluhkan sulitnya mendapatkan bahan bakar minyak bersubsidi untuk angkutannya. Sejak dua hari terakhir, tak ada lagi jatah BBM bersubsidi di SPBU untuk angkutan umum, baik angkutan kota maupun angkutan antarkota.

    "Sebelumnya kami tak pernah kesulitan mendapatkan bensin, tapi satu-dua hari ini anggota sudah mengeluhkan tak ada lagi bahan bakar yang dialokasikan untuk angkutan umum," kata Ketua Organisasi Angkutan Darat Kalimantan Timur Ambo Dalle, Selasa, 26 Agustus 2014.

    Ambo khawatir kesulitan mendapatkan bahan bakar ini akan berlanjut karena pemberitaan di media menyebutkan bahwa BBM bersubsidi sudah langka di mana-mana. Dampaknya, kata dia, jika kesulitan ini berlanjut, akan mengganggu transportasi. (Baca: Premium dan Solar Langka di Karanganyar)

    Menurut Ambo Dalle, ada dua kemungkinan kalau kendaraan sulit mendapatkan bensin. Pertama, para penumpang ditukar ke mobil lain ketika tak lagi mendapat pasokan. Kemungkinan kedua adalah kembali ke terminal. "Intinya, penumpang tak lagi bisa sampai tepat waktu," kata Ambo. (Baca: Bappenas Ketemu Tim Transisi, Soal BBM Tak Dibahas)

    Karena sudah tak ada lagi alokasi khusus angkutan umum, maka sopir angkutan harus mengikuti antrean kendaraan biasa. Akibatnya, waktu menjalankan trayek berkurang. Menurut dia, bukan tidak mungkin para sopir akan kesulitan mencapai target setoran. Apalagi di Kalimantan Timur, khususnya Samarinda, usaha angkutan sudah mulai redup. "Setiap rumah sudah punya sepeda motor pribadi, kejar setoran ini susah kalau misalnya waktu jalannya berkurang, kan, bisa saja pendapatan berkurang," katanya.

    Dari pantauan Tempo di sejumlah SPBU di Kota Samarinda, tak tampak adanya antrean yang berlebihan. Kendaraan yang antre masih dalam kategori wajar karena antrean sama sekali belum mengganggu lalu lintas. (Baca: Kuota BBM Subsidi di Jateng-DIY Tinggal 33 Persen)

    FIRMAN HIDAYAT

    Terpopuler:
    Hari Ini, Tim Advokasi Prabowo Lapor ke Komnas HAM
    Polisi Panggil Pengurus Gerindra Soal Garuda Merah 
    ISIS Rebut Pangkalan Militer Suriah
    Masuk Bursa Wali Kota Depok, Tifatul Direspons Negatif 
    Ini Saran Komnas HAM kepada Tim Advokasi Prabowo


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Catatan Kinerja Pemerintahan, 100 Hari Jokowi - Ma'ruf Amin

    Joko Widodo dan Ma'ruf Amin telah menjalani 100 hari masa pemerintahan pada Senin, 27 Januari 2020. Berikut catatan 100 hari Jokowi - Ma'ruf...