Premium Dibatasi, Petani Terancam Gagal Panen  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah jerigen memenuhi SPBU di kawasan Kosambi, Tangerang, (26/8). Antrean ini disebabkan tertundanya pengiriman pasokan BBM sejak dua hari dan pertamina akan mengurangi pasokan impor minyak mentah karena melemahnya nilai tukar rupiah. TEMPO/Marifka Wahyu Hidayat

    Sejumlah jerigen memenuhi SPBU di kawasan Kosambi, Tangerang, (26/8). Antrean ini disebabkan tertundanya pengiriman pasokan BBM sejak dua hari dan pertamina akan mengurangi pasokan impor minyak mentah karena melemahnya nilai tukar rupiah. TEMPO/Marifka Wahyu Hidayat

    TEMPO.CO, Brebes - Pengaturan kuota bahan bakar minyak bersubsidi tidak hanya menyebabkan antrean kendaraan mengular di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum di jalur Pantai Utara (Pantura) Jawa Tengah. Di Kabupaten Brebes, para petani pun menjerit karena kesulitan mencari Premium untuk mengoperasikan mesin diesel pemompa air. (Baca: Jero Wacik Pastikan Kuota BBM Subsidi Tak Ditambah)

    “Membeli Premium menggunakan jeriken di SPBU sudah dilarang. Kios-kios bensin eceran juga sudah pada tutup,” kata Ketua Kelompok Tani Sumber Pangan Desa Tegalglagah, Kecamatan Bulakamba, Brebes, Subkhan, pada Senin, 25 Agustus 2014.

    Subkhan mengatakan sebagian besar tanaman bawang merah di Bulakamba saat ini berumur 30 hari. Pada bulan pertama masa tanam itu, tanaman bawang harus dialiri air tiap tiga hari sekali. Lantaran sawah mulai mengering, pengairan tanaman bawang itu harus menggunakan mesin diesel. (Baca: SPBU Dalam Kota Bogor Antre Panjang)

    Untuk mengairi lahan seluas seperdelapan hektare, Subkhan berujar, mesin diesel membutuhkan 4 liter bensin. “Luas lahan bawang di Tegalglagah dan Petunjungan (Kecamatan Bulakamba) dan di Kecamatan Larangan totalnya 100 hektare. Tinggal dikalikan saja berapa kebutuhan bensinnya,” ujar Subkhan.

    Subkhan menambahkan, tanaman bawang yang usianya di atas 30 hari juga tetap membutuhkan air untuk pembesaran umbi. “Kalau dipersulit membeli bensin, banyak petani bawang di Brebes terancam gagal panen,” katanya. (Baca: Organda Minta Pembatasan BBM Dihentikan)

    Koordinator Alokasi Air di Balai Pengelolaan Sumber Daya Air (BPSDA) Pemali Comal, Adi Setijono, mengatakan hingga kini pihaknya belum menerima informasi ihwal adanya kekeringan di wilayah Brebes, Tegal, Kota Tegal, dan Pemalang.

    “Debit air di Waduk Penjalin, Malahayu, dan Cacaban terpantau masih aman,” kata Adi saat dihubungi Tempo pada Senin sore. Waduk Penjalin dan Malahayu berada di Brebes. Sedangkan Cacaban adalah waduk di Tegal.

    Adi mengatakan debit air Waduk Penjalin saat ini sebanyak 7 juta meter kubik. Pekan lalu, debit waduk di Kecamatan Paguyangan itu sempat menurun karena intensitas hujan yang semakin berkurang. “Tapi pekan ini limpasannya sudah tinggi lagi,” ujarnya. Adapun debit air Waduk Malahayu, Kecamatan Banjarharjo, masih 20 juta meter kubik.

    “Kekeringan biasanya terjadi ketika petani tidak mematuhi pola tanam alias masih menanam padi di musim kering,” ujar Adi.

    DINDA LEO LISTY



    Berita Terpopuler:
    Jokowi Kalah Rapi Ketimbang Paspampres
    Unimog Milik Massa Prabowo Harganya Rp 1-2 Miliar 
    Begini Spesifikasi Calon Tunggangan Jokowi





     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Peranan Penting Orang Tua dalam Kegiatan Belajar dari Rumah

    Orang tua mempunyai peranan yang besar saat dilaksanakannya kegiatan belajar dari rumah.