BBM Bersubsidi Mulai Langka di Subang

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah jerigen memenuhi SPBU di kawasan Kosambi, Tangerang, (26/8). Antrean ini disebabkan tertundanya pengiriman pasokan BBM sejak dua hari dan pertamina akan mengurangi pasokan impor minyak mentah karena melemahnya nilai tukar rupiah. TEMPO/Marifka Wahyu Hidayat

    Sejumlah jerigen memenuhi SPBU di kawasan Kosambi, Tangerang, (26/8). Antrean ini disebabkan tertundanya pengiriman pasokan BBM sejak dua hari dan pertamina akan mengurangi pasokan impor minyak mentah karena melemahnya nilai tukar rupiah. TEMPO/Marifka Wahyu Hidayat

    TEMPO.CO, Subang - Warga di kawasan Pantai Utara Jawa bagian barat mulai kelimpungan mencari bahan bakar minyak bersubsidi. Di Subang, untuk mencari Premium atau solar, warga mesti bersusah payah menyusuri semua stasiun pengisian bahan bakar umum. Itu pun belum tentu mendapatkannya.

    "Di semua SPBU di Pantura yang kami datangi, stok BBM bersubsidi ludes semuanya," ujar Mahmudin, warga Kecamatan Pamanukan, kepada Tempo, Ahad, 24 Agustus 2014. Padahal Mahmudin mengaku sangat membutuhkan solar bersubsidi itu untuk kepentingan operasional traktor dan mesin pompa air buat sawahnya.

    Menurut Mahmudin, pemerintah lebih baik segera menaikkan harga BBM saja daripada membatasi kuota dan memicu kelangkaan BBM bersubsidi yang menimbulkan ketidakpastian usaha. "BBM itu, kan, sudah jadi kebutuhan pokok, jadi kapan pun harus selalu ada," ujarnya. (Baca: Golkar Setuju Pengalihan Subsidi BBM)

    Manajer SPBU Sukasari Subang, Suhendar, mengatakan bahwa kelangkaan BBM bersubsidi ini dipicu oleh kebijakan Pertamina yang sejak 18 Agustus 2014 mulai melakukan pembatasan kuota di setiap SPBU. SPBU yang dikelolanya kini hanya mendapat pasokan Premium bersubsidi sebanyak 16 kiloliter dan solar sebanyak 35 kiloliter per hari. Sebelum ada pembatasan, Premium yang diterimanya sebanyak 20 kiloliter dan solar 45 kiloliter per harinya.

    Ihwal terjadinya pembatasan BBM bersubsidi tersebut, Suhedar mengaku mendapat penjelasan dari Pertamina bahwa hal itu dilakukan agar stok BBM bersubsidi cukup sampai akhir Desember 2014. "Jadi kami menuruti perintah dan penjatahan kuota yang dilakukan Pertamina itu," ujarnya. (Baca: Jokowi Setuju Kenaikan Listrik dan Pembatasan BBM)

    Meski begitu, ia mengaku tetap memberikan ruang pembelian BBM bersubsidi kepada warga, terutama petani dan nelayan. "Kami juga sudah tidak melayani pembelian BBM dengan menggunakan jeriken," ujar Suhendar.

    Sebelumnya, selama tiga hari, pasokan Premium di wilayah Kabupaten Kuningan dan Majalengka dilaporkan juga terhambat. Akibatnya, sepanjang hari terlihat antrean panjang di sejumlah SPBU. Pengiriman Premium bersubsidi yang mulai dibatasi sejak Kamis malam, 21 Agustus 2014, membuat para pengendara harus rela antre berjam-jam demi mendapatkan Premium.

    NANANG SUTISNA

    Terpopuler:
    Prabowo Terus Menggugat, Siapa Paling Diuntungkan?
    Prabowo Curhat di Facebook, Hatta di Twitter
    Jokowi Dikawal 37 Paspampres, 7 Mobil, dan 3 Motor
    Ahok Akan Ajukan Dua Nama Calon Wakil Gubernur  


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Kantor dan Tempat Kerja

    BPOM melansir panduan penerapan new normal alias tatanan baru. Ada sembilan rekomendasi agar pandemi tak merebak di kantor dan tempat kerja.