Kena PPN, Kakao Bakal Lebih Banyak Diekspor  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Biji kakao. ANTARA/Zabur Karuru

    Biji kakao. ANTARA/Zabur Karuru

    TEMPO.CO, Jakarta - Direktur Eksekutif Asosiasi Industri Kakao Indonesia, Sindra Wijaya, mengatakan penetapan pajak pertambahan nilai (PPN) untuk produk pertanian segar bakal membuat lebih banyak penjualan biji kakao ke luar negeri. Menurut dia, hal ini terjadi karena pajak ekspor yang nol persen bisa lebih dimanfaatkan pedagang biji kakao untuk mendapat keuntungan di mancanegara ketimbang menjual produk mereka di dalam negeri. (Baca:Penghapusan Bea Masuk Kakao Masih Wacana )

    "Hal ini menjadi kekhawatiran kami terhadap jumlah stok kakao di dalam negeri yang akan berkurang," kata Sindra dalam konferensi pers penolakan pengenaan PPN di kantor Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia di Gondangdia, Jakarta Pusat, Kamis, 21 Agustus 2014.

    Sindra khawatir dampak PPN ini akan membuat kondisi penjualan di dalam negeri kembali seperti sebelum 2007. Waktu itu, kata dia, Indonesia mengambil langkah mundur karena industri kakao dalam negeri seret akibat ekspor biji kakao berlebihan. "Putusan MA tentang penetapan PPN 10 persen ini melemahkan industri kakao dalam negeri," katanya. (Baca:Target Penerimaan Perpajakan 2014 Direvisi )

    Sindra setuju dengan Peraturan Presiden Nomor 31 Tahun 2007, yang menyebutkan produk pertanian tak dikenai PPN. Menurut dia, dengan peraturan itu itu, hilirisasi industri kakao berkembang dengan baik. Selain itu, pajak ekspor yang ditetapkan juga tak menganggu jumlah stok kakao dalam negeri.

    Namun Mahkamah Agung melalui keputusan nomor 70 tahun 2014 telah membatalkan peraturan presiden tersebut. Dalam putusan itu dinyatakan penyerahan barang hasil pertanian yang dihasilkan dari usaha pertanian, perkebunan, dan kehutanan oleh pengusaha kena pajak (PKP) dikenai PPN. "Putusan MA ini membuat hilirisasi tersendat," kata Sindra. (Baca:Harga Turun, Bea Keluar CPO dan Kakao Tetap )

    Kapasitas industri biji kakao tahun ini sebesar 500.000 ton. Sedangkan targetnya 800.000 ton. Dengan penetapan PPN 10 persen mulai 22 Juli ini, Sindra ragu produktivitas petani kakao dapat bertambah. "Kami malah pesimis industri ini dapat berkembang tahun depan," katanya.

    YOLANDA RYAN ARMINDYA

    Terpopuler
    Kronologi Kerusuhan Massa Pro-Prabowo di MK
    MK Tolak Seluruh Gugatan Prabowo 
    Bisakah Prabowo Menang di MK? Ini Prediksi Pakar 
    Putusan Gugatan Prabowo di MK Setebal 4.390 Lembar 
    SBY Merasa Dituduh Merecoki Jokowi

     


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.