Dampak Comal, Okupansi Kereta Naik Pesat

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Jembatan Comal di kawasan Desa Jatirejo, Pemalang, Jawa Tengah. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    Jembatan Comal di kawasan Desa Jatirejo, Pemalang, Jawa Tengah. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    TEMPO.CO  Purwokerto - Sejak terganggunya arus transportasi di jalur Pantai Utara Jawa akibat rusaknya Jembatan Comal, kereta Kamandaka yang melayani rute Purwokerto-Semarang menjadi tumpuan masyarakat. Kereta ini menjadi pilihan alat transportasi baru masyarakat dari Purwokerto, Slawi, dan Tegal ke Semarang atau sebaliknya, yang biasanya melewati jalur Pantura.

    "Belakangan ini, okupansi rata-rata kereta Kamandaka mengalami peningkatan," kata Manajer Humas PT KAI Daerah Operasi 5 Purwokerto Surono, Ahad, 17 Agustus 2014. (Baca: Jembatan Comal Rampung Permanen Desember)

    Surono mengatakan dari data rail ticket system (RTS) diketahui jumlah penumpang Kamandaka untuk perjalanan Purwokerto-Semarang sejak 18 Juli lalu rata-rata mencapai 770 orang per hari. Ini berarti okupansi kereta ini sudah mencapai rata-rata 121 persen setiap harinya.

    Sedangkan untuk rute Semarang-Purwokerto jumlah penumpang rata-rata per harinya bahkan lebih tinggi lagi, yakni rata-rata 860 orang per hari. Dengan jumlah penumpang sebanyak ini, okupansi rata-rata rute ini telah mencapai 134 persen. (Baca: Pekan Depan, Jembatan Comal Bisa Dilalui Truk )

    Surono menuturkan, meskipun PT KAI menetapkan kebijakan okupansi 100 persen atau jumlah penumpang sesuai dengan tempat duduk untuk kereta Kamandaka, okupansi riilnya ternyata lebih dari 100 persen. Okupansi tertinggi pernah mencapai 166 persen pada perjalanan Semarang-Purwokerto tanggal 2 Agustus lalu.

    Okupansi yang melebihi 100 persen tersebut terjadi karena trayek penumpang kereta Kamandaka yang cukup dinamis, banyak penumpang yang turun dan naik di stasiun antara. "Misalnya, penumpang dari Purwokerto turun di Tegal, di Tegal tempatnya digantikan lagi oleh penumpang yang baru lagi, dan seterusnya, sehingga hitungan okupansi melebihi 100 persen," ujar Surono.

    Menurut Surono, waktu tempuh Purwokerto-Semarang dengan menggunakan kereta yang hanya membutuhkan 4,5 jam relatif lebih cepat jika dibanding moda transportasi jalan raya yang setidaknya butuh waktu lima-tujuh jam. Keunggulan waktu tempuh dan kenyamanan yang lebih baik ditengarai menjadi alasan meningkatnya animo masyarakat menggunakan kereta Kamandaka.

    Berdasarkan pantauan Tempo sepanjang Bumiayu-Purwokerto, jalanan saat ini masih didominasi truk besar yang memacetkan jalan. Tak hanya itu, akibat dilalui truk besar yang beban tonasenya melebihi kelas jalan, banyak ruas jalan yang rusak. (Baca: Lintasi Jembatan Comal, Kendaraan Berat Ditimbang)

    ARIS ANDRIANTO


    Terpopuler:
    Kubu Prabowo: Masih Cukup Waktu untuk Pemilu Lagi
    Tim Transisi: Gerak Jokowi Terkunci RAPBN 2015
    Kepala Polsek di Bima Tewas Ditembak
    Kementerian Dilebur, Ini Komentar Para Menteri
    Abu Bakar Ba'asyir Tak Dapat Remisi Kemerdekaan
    Mobil Baru Obral Diskon, Mobil Bekas Susah Laku


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Menimbun Kalori Kue Lebaran, seperti Nastar dan Kastengel

    Dua kue favorit masyarakat Indonesia saat lebaran adalah nastar dan kastangel. Waspada, dua kue itu punya tinggi kalori. Bagaimana kue-kue lain?