Harga Pokok Gula Naik, Petani Tetap Gugat ke MA  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petani tebu yang tergabung dalam Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) memakan batang tebu saat unjuk rasa di depan kantor Kementerian Perdagangan, Jakarta (14/12). Mereka menuntut pemerintah menindak tegas pelaku perembesan gula rafinasi di pasar umum yang menyebabkan harga gula jatuh. TEMPO/Aditia Noviansyah

    Petani tebu yang tergabung dalam Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) memakan batang tebu saat unjuk rasa di depan kantor Kementerian Perdagangan, Jakarta (14/12). Mereka menuntut pemerintah menindak tegas pelaku perembesan gula rafinasi di pasar umum yang menyebabkan harga gula jatuh. TEMPO/Aditia Noviansyah

    TEMPO.CO, Jakarta - Kementerian Perdagangan telah menaikkan harga patokan petani (HPP) gula kristal putih menjadi Rp 8.500 per kilogram dari sebelumnya Rp 8.250 per kilogram. Namun sejumlah petani tebu asal Kudus menyatakan tetap akan melanjutkan gugatan revisi HPP gula ke Mahkamah Agung. (Baca: Pemerintah Revisi Harga Patokan Gula)

    "Gugatan tetap kami lanjutkan," kata koordinator petani tebu Kudus, M. Nur Khabsyin, melalui pesan singkat kepada Tempo, Senin, 11 Agustus 2014.

    Menurut Nur, meskipun HPP gula telah dinaikkan menjadi Rp 8.500 per kilogram, harga tersebut belum memenuhi keinginan petani. Apalagi Dewan Gula Indonesia sebelumnya telah menghitung HPP gula tahun ini mestinya mencapai Rp 9.500 per kilogram. "Kami konsisten dengan usulan DGI tersebut," ujarnya. (Baca: Asosiasi Usul HPP Gula Rp 8.500)

    Nur menuturkan perhitungan HPP tersebut diperoleh dari kesepakatan besaran biaya pokok produksi (BPP) gula tani sebesar Rp 8.791 per kilogram oleh DGI. Sementara itu, usulan BPP dari Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia sebesar Rp 9.676 per kilogram.

    Agar petani tetap bergairah menanam tebu, tim BPP menilai perlunya insentif yang layak di atas nilai BPP. Tim BPP kala itu mengusulkan HPP sebesar Rp 9.100 per kilogram, sementara APTRI mengusulkan Rp 10.644 per kilogram, yang kemudian disepakati angka tengahnya Rp 9.500 per kilogram. "Tapi Menteri Perdagangan malah menetapkan HPP gula sebesar Rp 8.250 per kilogram," kata Nur. (Sebelumnya: Harga Patokan Gula Ditetapkan Rp 8.250)

    Dengan harga yang rendah tersebut, secara psikologis, harga gula lokal menurun. Akibatnya, keuntungan petani tidak tercapai. Petani bahkan tak bergairah lagi menanam tebu. "Ini berdampak pada tidak tercapainya swasembada gula yang mengancam kemandirian pangan serta ketahanan pangan nasional," ujar Nur.

    Sebelumnya, Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi menuturkan kebijakan revisi ini untuk meningkatkan insentif kepada petani agar bersemangat menanam tebu. Menurut dia, dengan insentif tersebut, semangat petani untuk menanam tebu terus terpupuk. Dengan demikian, kesejahteraan dan pendapatan petani tebu rakyat semakin meningkat dan akhirnya turut meningkatkan produktivitas gula petani.

    AYU PRIMA SANDI

    Terpopuler:
    Jokowi Angkat Hendropriyono sebagai Penasihat
    UIN Jakarta Ungkap Kejahatan Seks ISIS
    Bendera ISIS Berkibar di Samping Kantor Polisi
    Imigrasi Pindah ke Terminal 2, Ini Kata Denny Indrayana
    Jokowi Disalahkan Tak Ada Premium di SPBU Rest Area


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Akhir Cerita Cinta Glenn Fredly

    Glenn Fredly mengembuskan napas terakhirnya pada Rabu, 8 April 2020 di RS Setia Mitra, Jakarta. Glenn meninggalkan cerita cinta untuk dikenang.