Pasar Obligasi Berpotensi Melemah  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Refleksi karyawan memantau pergerakan pasar uang dan obligasi di Global Market Permata Bank, Jakarta, Selasa (10/1). ANTARA/Rosa Panggabean

    Refleksi karyawan memantau pergerakan pasar uang dan obligasi di Global Market Permata Bank, Jakarta, Selasa (10/1). ANTARA/Rosa Panggabean

    TEMPO.CO, Jakarta - Kepala Riset PT Trust Securities Reza Priyambada memprediksi pergerakan laju obligasi pada pekan ini akan bergerak variatif. Namun potensi pelemahan akan terjadi karena belum ada sentimen positif yang menguatkan.

    "Kecuali jika ada data-data ekonomi global yang bisa direspons positif, laju obligasi dapat menguat meski tipis," katanya kepada Tempo, Ahad, 10 Agustus 2014.

    Jika kondisinya positif, diperkirakan laju pasar obligasi menguat rerata 45-60 basic poin. Namun, jika sebaliknya, harga obligasi akan melemah hingga minimal rerata 100-125 basic poin karena aksi ambil untung.

    Menurut Reza, pelaku pasar harus tetap mencermati perubahan sentimen yang ada, terutama dari sisi laju nilai tukar rupiah dan rilis data-data global. "Tetaplah bersikap rasional dan tidak terlalu panik berlebihan," ujarnya.

    Sepanjang pekan kemarin, pasar obligasi cenderung menurun karena banyak sentimen negatif, terutama setelah Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data-data ekonomi yang tak terlalu menggembirakan. Tak hanya itu, pelaku pasar cenderung mengamankan posisi setelah melihat laju pasar obligasi global juga tidak terlalu baik. Mayoritas obligasi masih mengalami penurunan harga sehingga menyebabkan kenaikan yield.

    Pada lelang sepekan lalu, pemerintah menyerap dana sebesar Rp 11,60 triliun untuk lelang lima seri obligasi negara. Di antaranya seri SPN12141107; SPN12150806; FR0069; FR0070; dan FR0068. Total penawaran yang masuk sebesar Rp 17,94 triliun.

    Pemerintah akan kembali melelang tiga seri sukuk atau Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) dengan target indikatif Rp 1,5 triliun pada 12 Agustus 2014. Tiga seri SBSN yang akan dilelang adalah seri SPN-S13022015 (penerbitan baru), seri PBS005 (penjualan kembali), dan seri PBS006 (penjualan kembali). SBSN ini akan jatuh tempo pada 13 Februari 2015.

    DEWI SUCI RAHAYU

    Terpopuler:
    Jokowi Angkat Hendropriyono sebagai Penasihat
    UIN Jakarta Ungkap Kejahatan Seks ISIS
    Bendera ISIS Berkibar di Samping Kantor Polisi
    Imigrasi Pindah ke Terminal 2, Ini Kata Denny Indrayana
    Jokowi Disalahkan Tak Ada Premium di SPBU Rest Area


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Arti Bilangan R(0) dan R(t) untuk Menerapkan New Normal

    Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Suharso Monoarfa mengatakan bahwa suatu daerah dapat melaksanakan New Normal bila memenuhi indikator R(0).