Tak Jual Premium, Pendapatan SPBU Turun 50 Persen  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pemberitahuan tidak menjual Premiumn  SPBU km 14 Tol Jakarta-Tangerang, Banten (6/8). Mulai hari ini SPBU yang berada di tol mulai memberlakukan kebijakan pemerintah terkait tidak menjual premium bersubsdi .TEMPO/Marifka Wahyu Hidayat.

    Pemberitahuan tidak menjual Premiumn SPBU km 14 Tol Jakarta-Tangerang, Banten (6/8). Mulai hari ini SPBU yang berada di tol mulai memberlakukan kebijakan pemerintah terkait tidak menjual premium bersubsdi .TEMPO/Marifka Wahyu Hidayat.

    TEMPO.CO, Jakarta - Pengelola stasiun pengisian bahan bakar umum di rest area jalan tol mengeluhkan pelarangan penjualan BBM jenis Premium. Kebijakan itu membuat pembeli sepi, sehingga mengakibatkan pendapatan pengelola SPBU berkurang sekitar 50 persen setiap hari.

    Seperti SPBU di rest area Jalan Tol Tangerang-Merak Km 43. Menurut Roby Nuralamsyah, staf pengelola SPBU itu, pendapatan per harinya anjlok. "Pendapatan kami sebelum adanya kebijakan itu sehari bisa Rp 300-400 juta. Sekarang maksimal Rp 200 juta," kata Roby Nuralamsyah saat ditemui Tempo, Sabtu, 9 Agustus 2014.

    Menurut dia, para pengendara yang akan mengisi BBM hanya lewat setelah tahu tidak ada Premium. "Mereka berhenti sebentar, baca pengumuman, akhirnya enggak jadi mengisi." (Baca: Ahok: 2015, SPBU Jakarta Bebas BBM Bersubsidi)

    Tak dijualnya Premium di SPBU rest area, kata Roby, membuat para pengendara tepaksa mengalihkan bahan bakarnya menjadi Pertamax. Pengalihan itu membuat konsumsi Pertamax di SPBU tersebut meningkat. Jika per hari hanya bisa terjual 500 liter, Pertamax yang terjual per hari mencapai 2.000 liter sejak adanya pelarangan penjualan Premium. Namun peningkatan tersebut nyatanya tak bisa mengkompensasi penurunan pendapatan secara keseluruhan.

    Roby mengaku SPBU sudah melakukan sosialiasi tentang kebijakan ini. Beberapa spanduk yang berisi pengumuman juga terlihat di SPBU. Bahkan, tiap kali mengisi BBM, para petugas kembali menanyakan pada pengendara. "Hanya ngisi Pertamax, ya, Pak, di sini," kata petugas mengingatkan. (Baca: Hiswana: SPBU Tol Lengang seperti Lapangan Bola)

    Mulai 6 Agustus 2014, Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas (BPH Migas) melarang SPBU di rest area jalur jalan tol menjual BBM bersubsidi. Aturan ini, menurut Andi, untuk menekan volume penggunaan BBM bersubsidi yang terus membengkak.

    Beberapa pengendara memang terlihat hanya lewat saat mengetahui SPBU tersebut hanya melayani penjualan Pertamax. Surya, pengendara mobil, mengaku terpaksa mengisi Pertamax di SPBU rest area lantaran bahan bakar mobilnya hampir habis. Namun, secara umum, dia mendukung progam pemerintah dalam mengurangi subsidi BBM. "Tapi, ya, jangan seperti ini, harusnya diberlakukan kepada semua SPBU."

    FAIZ NASHRILLAH

    Baca juga:
    Polisi: Kemenhukham Selidiki 2 Jurnalis Prancis
    Inobus Diminta Periksa Penyebab Bus Gandeng Patah
    Operasi Sukses, Tangan Kiri Letda Dylan Tersambung
    Ayah Dukung Israel, Angelina Jolie Pro-Palestina


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.