Pembatasan Solar dan Premium Kerek Laju Inflasi

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi Bahan Bakar Minyak Solar habis. TEMPO/Marifka Wahyu Hidayat

    Ilustrasi Bahan Bakar Minyak Solar habis. TEMPO/Marifka Wahyu Hidayat

    TEMPO.CO, Jakarta - Pengamat ekonomi Universitas Indonesia, Lana Soelistianingsih, mengatakan rencana pemerintah membatasi konsumsi bahan bakar minyak bersubsidi akan berdampak terhadap laju inflasi Agustus. "Inflasi akan terasa di Agustus, tapi tidak seberapa besar," kata Lana ketika dihubungi, Sabtu, 2 Agustus 2014.

    Mulai 1 Agustus 2014, sejumlah pompa bensin di wilayah Jakarta Pusat tak lagi menjual solar. Adapun mulai 6 Agustus, sejumlah pompa bensin di tempat peristirahatan di sepanjang jalan tol juga dilarang menjual bahan bakar berjenis Premium. (Baca juga: Solar Subsidi Dihapus, Ongkos Angkutan Melonjak)

    Ia mengatakan inflasi akibat pembatasan tidak akan terlalu berdampak besar karena pemerintah dapat menahan harga bahan makanan dengan baik selama beberapa bulan terakhir. "Perlu diapresiasi tindakan pemerintah yang membuat harga bahan makanan tetap stabil sejak Maret lalu," kata Lana. (Baca juga: Pembatasan Solar Subsidi Dianggap Tak Efektif)

    Ia mengatakan tindakan pemerintah mengimpor bahan makanan sejak Maret terbukti dapat menjaga kestabilan harga bahan makanan. Hal ini berdampak pada terjaganya inflasi. (Baca juga: SPBU di Tol Tak Boleh Jual Bensin Subsidi)

    Sedangkan pembatasan konsumsi BBM bersubsidi, kata Lana, akan berdampak langsung terhadap kenaikan harga logistik dan pengiriman. Dia mengatakan, meski tak ada pembatasan solar dan Premium, pengusaha logistik tetap menaikkan harga. "Kenaikan biaya transportasi dan logistik itu selalu dijadikan alasan supaya pemerintah tidak berani mengambil kebijakan," ujarnya.

    Ia mengatakan keputusan pembatasan ini memang perlu dilakukan ketimbang pilihan menaikkan harga bahan bakar subsidi. "Cara ini memaksa pemerintah dan masyarakat berhemat ketimbang membayar lebih mahal," kata Lana.

    Upaya pembatasan konsumsi BBM bersubsidi dilakukan pemerintah setelah kuota yang ditetapkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan 2014 terancam jebol. Data Pertamina menyebutkan, hingga 31 Juli 2014, realisasi konsumsi solar bersubsidi mencapai 9,12 juta kiloliter atau 60 persen dari kuota APBN-P 2014. Sedangkan realisasi konsumsi Premium mencapai 17,08 juta kiloliter atau 58 persen dari kuota APBN-P 2014.

    MAYA NAWANGWULAN


    Berita Terpopuler 
    Beredar Foto Ba'asyir Dibaiat Dukung ISIS 
    Pendiri Kamp Militer di Aceh Pendukung Utama ISIS  
    Ini Alasan Kominfo Belum Blokir Video ISIS


     


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tips Menghadapi Bisa Ular dengan Menggunakan SABU

    Untuk mengatasi bisa ular, dokter Tri Maharani memaparkan bahwa bisa ular adalah protein yang hanya bisa ditawar dengan SABU polivalen.