CT Yakin Naiknya Harga BBM Tak Ganggu Inflasi  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sebuah SPBU di penuhi oleh warga yang akan membeli dan memenuhi tangki kendraannya di Hayam Muruk, Jakarta Barat, (21/6). Jelang Pemerintah mengumumkan kenaikan harga BBM subsidi warga rela mengantri untuk mengisi BBM. TEMPO/Imam Sukamto

    Sebuah SPBU di penuhi oleh warga yang akan membeli dan memenuhi tangki kendraannya di Hayam Muruk, Jakarta Barat, (21/6). Jelang Pemerintah mengumumkan kenaikan harga BBM subsidi warga rela mengantri untuk mengisi BBM. TEMPO/Imam Sukamto

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Koordinator Perekonomian Chairul Tanjung berpendapat, kenaikan harga bahan bakar minyak tidak akan mengganggu inflasi. Menurut dia, meningkatnya inflasi lebih didorong oleh kenaikan harga bahan makanan.

    "Tidak akan terpengaruh kok. Inflasi tidak menjadi dasar untuk menaikkan atau menurunkan subsidi. Yang perlu dijaga justru kestabilan harga pangan," ujarnya, Senin, 28 Juli 2014.

    Untuk orang miskin atau yang hampir miskin, tutur dia, pengeluaran terbesar mereka hanya digunakan untuk makan, sehingga kebijakan pemerintah sebaiknya yang tidak mengganggu kestabilan harga. Harga pangan menjadi patokan bagi naik atau tidaknya inflasi. Jadi, kenaikan barang selain itu tidak akan mempengaruhi inflasi. "Itu sebabnya Pak Harto bisa memerintah selama 32 tahun, karena harga pangan bisa dijaga." 

    CT pribadi berpendapat, mengganti subsidi barang menjadi subsidi orang itu lebih tepat karena bisa langsung menyasar orang-orang miskin. Selama ini subsidi bahan bakar untuk kendaraan pribadi dan sepeda motor yang dilakukan pemerintah ternyata hanya dinikmati oleh golongan mampu.

    Jika pemerintah jadi menaikkan harga BBM, negara bisa menghemat anggaran hingga 60 persen. Subsidi tersebut juga bisa dialihkan ke sektor yang lebih produktif, seperti pembangunan infrastruktur dan penurunan kemiskinan.

    Subsidi BBM yang mencapai Rp 300 triliun membuat ruang gerak anggaran negara terbatas. Untuk itu, menaikkan harga BBM merupakan hal mutlak yang harus dilakukan.

    "Subsidi BBM saat ini sangat besar, yang membuat ekonomi kita jadi enggak sehat," ujar CT. 

    Terkait dengan pelaksanaannya, menurut dia, pilihannya terbuka. Apakah akan dinaikkan pada masa pemerintahan yang baru, pemerintahan saat ini, atau separuh untuk pemerintahan sekarang, kemudian dilanjutkan pemerintahan selanjutnya. Namun kecil kemungkinan pemerintahan saat ini menaikkan harga bahan bakar, mengingat masa kerjanya hanya tinggal dua setengah bulan lagi. (Baca: Survei: Publik Menolak Kenaikan Harga BBM)

    Menurut Chairul, pemerintah akan melakukan komunikasi dengan pemerintahan yang baru terkait dengan masalah yang ada di negeri ini. Hal tersebut akan ditentukan setelah Mahkamah Konstitusi memutuskan secara sah pemenang pemilihan presiden. "Kita tunggu saja hasil MK," katanya.

    AYU WANDARI


    Terpopuler:
    Lebaran, Jokowi Pesankan Menu Khusus untuk Ahok 

    Begini Jokowi dan Iriana Kencan di Waktu Luang

    Akil Ngamuk Karena Keluarganya Tak Bisa Jenguk

    Muslim Palestina Salat Idul Fitri di Gereja 

    Agung Laksono Akan Bawa Golkar Gabung ke Jokowi

    Paus Fransiskus dan Obama Ucapkan Selamat Idul Fitri


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Uji Praktik SIM dengan Sistem Elekronik atau e-Drives

    Ditlantas Polda Metro Jaya menerapkan uji praktik SIM dengan sistem baru, yaitu electronic driving test system atau disebut juga e-Drives.