Kilang Terbakar dan Nasib Karier Karen Agustiawan

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Direktur Utama Pertamina Karen Agustiawan. Tempo/Tony Hartawan

    Direktur Utama Pertamina Karen Agustiawan. Tempo/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Perjalanan karier Karen Agustiawan diwarnai dua kasus kebakaran kilang minyak Pertamina.

    Dulu, awal Januari 2009, tepatnya 18 Januari 2009, pukul 21.00, tangki nomor 24 di Depo Pertamina Plumpang, Jakarta Utara, meledak dan terbakar. Setidaknya tiga juta liter bensin Premium senilai Rp 15 miliar musnah. Selama dua hari, 645 SPBU di kawasan Jabodetabek mengalami kelangkaan bahan bakar. Adapun kerugian Pertamina mencapai Rp 22 miliar. (Baca juga : Soal Kebakaran, Pertamina: Bukan Kilang, Pemanas)

    Kejadian itu memicu perubahan posisi Karen Agustiawan, yang waktu itu menjabat Direktur Hulu Pertamina. Nama Karen masuk dalam daftar calon Direktur Utama Pertamina yang disetujui Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

    Sebelumnya, pada akhir 2008, terjadi kelangkaan bahan bakar minyak di beberapa wilayah di Indonesia. Saking jengkelnya, Presiden SBY mengkritik jajaran Pertamina dalam pidato pembukaan Bursa Efek Indonesia. "Saya tidak happy,” kata Presiden Yudhoyono pada 5 Januari 2009.

    Apalagi Pertamina beralasan kelangkaan BBM disebabkan oleh hari libur. Menurut Presiden, alasan seperti itu keliru. ”Tidak ada hari libur untuk melayani rakyat, dan negara itu tidak tidur,” ujar Presiden. (Lihat juga : Kilang Minyak Pertamina di Dumai Terbakar)

    Sebetulnya pergantian Direktur Utama Pertamina direncanakan sehari sebelum kebakaran Depo Plumpang. Tak ayak lagi, insiden itu membulatkan niat Presiden mengganti Ari H. Soemarno, Direktur Utama Pertamina saat itu. Dalam suatu pertemuan, Purnomo Yusgiantoro--yang waktu itu menjabat Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral--mengusulkan nama Karen Agustiawan.

    Karen Agustiawan menyingkirkan Kepala Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Aceh, Kuntoro Mangkusubroto, dan Erry Riyana. Calon direktur utama lain yang dikalahkan Karen berasal dari kalangan internal Pertamina, yakni bekas Direktur Umum dan Sumber Daya Mineral Sony Soemarsono, Direktur Pemasaran dan Niaga Pertamina Achmad Faisal, dan Komisaris Pertamina Maizar Rahman. (Berita terkait : Kebakaran di Plaju Diduga dari Kolam Minyak Curian)

    Kini, Direktur Utama Pertamina Karen Agustiawan mengalami kejadian hampir serupa dengan peristiwa lima tahun lalu. Insiden sama-sama terjadi menjelang pemilu, namun kali ini di pengujung masa jabatan Presiden SBY.

    Kilang minyak Dumai yang beroperasi sejak 1971 terbakar pada 6 Februari 2014 sekitar pukul 22.30 WIB. Kapasitas produksi 170 ribu barel minyak per hari kilang ini digunakan untuk kegiatan ekspor serta memasok gas dan BBM ke Sumatera Barat serta Riau.

    Meskipun termasuk kategori kilang tua, fasilitas Pertamina di Dumai ini mempunyai beberapa kelebihan. Di antaranya, mampu mengolah minyak mentah dari Blok Duri yang dikelola PT Chevron Pacific Indonesia.

    Selain itu, kilang ini mampu memaksimalkan produk bernilai tinggi berupa PKSA (Premium, Kerosene, Avtur, Solar). Kilang ini juga mampu menekan produk bernilai rendah (IFO, LSWR), agar mendapat nilai jual tinggi. Bahkan kini Kilang Dumai mampu menghasilkan solphy, produk ramah lingkungan yang lebih mahal dari avtur.



    EVAN | PDAT  | Sumber Diolah Tempo


    Terpopuler :

    Demi Cucu, Bos Sritex Lukminto Ziarah Walisongo

    Kata BRI dan BNI Soal Utang Korban Kelud 

    Dampak Kelud, Bandara Juanda Rugi Rp 2,5 Miliar

    Elpiji Naik, BI : Target Inflasi Tetap 4,9 Persen

    Rupiah Kembali Paling Perkasa Se-Asia  





     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perbedaan Pilkada Langsung, Melalui DPRD, dan Asimetris

    Tito Karnavian tengah mengkaji sejumlah pilihan seperti sistem pilkada asimetris merupakan satu dari tiga opsi yang mungkin diterapkan pada 2020.