Akses Data Bank Tangkal Pengemplang Pajak

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Leetaxhelp.com

    Leetaxhelp.com

    TEMPO.CO , Jakarta - Ekonom dari Institute for Economic Development and Finance, Enny Sri Hartati, menilai jika Direktorat Jenderal Pajak diberikan akses terhadap data perbankan maka potensi kebocoran pajak bisa lebih ditekan. Enny menduga banyak wajib pajak baik pribadi atau badan yang tidak melaporkan harta kekayaan dan simpanannya di Bank kepada petugas pajak.

    "Misalnya dalam laporan ke pajaknya sekian, ternyata simpanannya bisa mencapai miliaran di bank. Ini banyak terjadi sehingga banyak kebocoran penerimaan negara," kata Enny saat dihubungi Tempo, Sabtu, 15 Februari 2014.

    Menurut Enny, diberikannya akses data perbankan untuk kepentingan penerimaan pajak sudah mendesak. Menurut dia, hal itu akan memudahkan Direktorat Pajak dalam memaksimalkan penerimaan di tengah keterbatasan pegawai. "Tapi tentu tidak semua pegawai pajak bisa mendapat akses. Ini juga harus dipertegas oleh Direktorat Pajak," katanya.

    Selain banyaknya kebocoran dalam penerimaan pajak jenis Pajak Pengahasilan (PPh) pribadi atau badan, Enny juga melihat kebocoran terjadi dalam sektor Pajak Pertambahan Nilai. Menurut Enny, seharusnya penerimaan pajak dari PPN bisa mencapai 10 persen dari total nilai tambah perekonomian atau Produk Domestik Bruto.

    "Jika gross domestic product mencapai Rp 8000 triliun, seharusnya PPN bisa mencapai Rp 800 triliun. Tapi saat ini masih Rp 400 triliunan. Instrumen akses data perbankan itu bisa membantu membuat penerimaan pajak seperti dari PPN agar transparan," katanya.

    Enny meminta agar Dewan Perwakilan Rakyat mendukung upaya optimalisasi penerimaan pajak melalui instrumen ini dengan revisi Undang-Undang Perbankan. Menurut dia, selain pendapatan pajak bisa maksimal, publik juga bisa lebih mengawasi penerimaan pajak. "Jadi ada transparansi soal penerimaan pajak ini. Tentu Parlemen harus mendukung karena ini untk kepentingan penerimaan negara," ujarnya.

    Organisasi Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan (Organisation for Economic Co-operation and Development/OECD) memutuskan agar data perbankan dibuka untuk kepentingan pajak. Hal itu disampaikan dalam panduan resmi kerjasasama pertukaran informasi antara otoritas perpajakan antara negara. Panduan ini ditujukan untuk meningkatkan kepercayaan publik kepada pemerintah dalam penananganan kalkulasi pajak dan penghindaran pajak. Panduan ini merupakan mandar dari para pemimpin negara-negara G20.

    ANGGA SUKMA WIJAYA

    Terpopuler:
    BNPB Bantah Gunung Kelud Akan Meletus 2 Jam Lagi
    Jangan Langsung Siram Abu Vulkanik
    SBY Angkat Mbah Rono Jadi Kepala Badan Geologi
    Alasan Kelud Dijuluki 'Deadliest Volcano'
    Korban Ustad Hariri Akhirnya Buka Suara


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kebijakan Lockdown Merupakan Kewenangan Pemerintah Pusat

    Presiden Joko Widodo menegaskan kebijakan lockdown merupakan wewenang pusat. Lockdown adalah salah satu jenis karantina dalam Undang-undang.