Tertekan Kurs, Maskapai Tak Puas Kenaikan Tarif  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Dirjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan Herry Bhakti (tengah),  Ketua Indonesia National Air Carriers Association (INACA) Emirsyah Satar (kanan), dan Sekjen INACA Tengku Burhanuddin (kiri) berbincang usai peresmian Airlines Day2012, Indonesia Airlines Forum Series di Balai Kartini, Jakarta, Selasa (3/4). ANTARA/Rosa Panggabean

    Dirjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan Herry Bhakti (tengah), Ketua Indonesia National Air Carriers Association (INACA) Emirsyah Satar (kanan), dan Sekjen INACA Tengku Burhanuddin (kiri) berbincang usai peresmian Airlines Day2012, Indonesia Airlines Forum Series di Balai Kartini, Jakarta, Selasa (3/4). ANTARA/Rosa Panggabean

    TEMPO.CO, Jakarta - Sekretaris Jenderal Asosiasi Maskapai Penerbangan Indonesia (Indonesia National Air Carriers Association/ INACA) Tengku Burhanuddin menyatakan kenaikan tarif pesawat berupa penerapan surcharge tarif tambahan belum bisa menutup biaya operasi maskapai. Alasannya, tarif tambahan itu tidak sesuai dengan asumsi kurs dolar dan harga avtur yang menjadi patokan tarif para operator.

    "Akibatnya, bisa lebih banyak terjadi penutupan rute penerbangan," kata dia dalam diskusi di Warung Daun, Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu. (Baca juga: Penyebab Bisnis Maskapai Tumbang)

    Menurut Tengku, maskapai meminta pemerintah mengubah batas atas tarif penerbangan. Penerapan surcharge atau tuslah, kata dia, hanya bisa meringankan beban untuk sementara waktu. Padahal, katanya lagi, kurs dolar sudah melampaui 12 ribu, jauh dari asumsi patokan tarif batas atas sebesar 10 ribu. Dalam tiga bulan terakhir, di beberapa daerah harga avtur pun naik hingga melampaui Rp 10 ribu per liter. "Batas atas harus diubah karena kami sudah berdarah-darah," ujarnya.

    Tengku mengatakan melemahnya rupiah dan naiknya harga avtur menyebabkan beban operasi maskapai naik sampai 30 persen. Akibatnya, margin laba maskapai, yang rata-rata mencapai 5-10 persen, semakin tergerus. Meski menuntut kenaikan, Tengku tidak menyebutkan angka ideal tarif batas atas. "Kami hanya meminta tarif disesuaikan dengan kondisi saat ini." (Lihat juga: Tutup Sebagian, Ini Rute Andalan Mandala Air)

    Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan Herry Bakti Singayudha Gumay mengatakan belum akan mengubah tarif batas atas. "Sebab, evaluasinya memerlukan pertimbangan banyak pihak," katanya.

    Jadi tarif batas atas masih akan mengacu pada Keputusan Menteri Perhubungan Nomor 26 Tahun 2010 yang nilainya bervariasi berdasarkan jenis pesawat dan jarak tempuh. Namun penerapan tarif batas atas hingga 100 persen hanya berlaku untuk maskapai dengan layanan maksimum (full service). Maskapai kelas menengah dan murah hanya boleh mematok tarif masing-masing 90 dan 85 persen dari batas atas. (Berita lain: Butuh Rp 5 Triliun untuk Tutup Merpati)

    ANANDA PUTRI | AYU PRIMA SANDI

    Terpopuler :
    Demi Jokowi, Terry Foxconn Rela Tak Libur
    Ekonom Senior Thee Kian Wie Wafat 
    Mandala Menanti Masa Liburan untuk Buka Rute 
    Pembekuan Dicabut bila Merpati Layak Terbang 
    Tutup Sebagian, Ini Rute Andalan Mandala Air  

     


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Rencana dan Anggaran Pemindahan Ibu Kota, Ada Tiga Warga Asing

    Proyek pemindahan ibu kota negara ke Kalimantan Timur dieksekusi secara bertahap mulai 2020. Ada tiga warga asing, termasuk Tony Blair, yang terlibat.