Pemilik Hotel Khawatirkan Isu Sweeping  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang wisatawan asing melintas di depan bendera Australia berisi foto-foto korban meninggal di pagar bekas Cafe Sari Club yang meledak akibat tragedi bom Bali I di Jalan Legian, Kuta, Bali, (12/10). TEMPO/Johannes P. Christo

    Seorang wisatawan asing melintas di depan bendera Australia berisi foto-foto korban meninggal di pagar bekas Cafe Sari Club yang meledak akibat tragedi bom Bali I di Jalan Legian, Kuta, Bali, (12/10). TEMPO/Johannes P. Christo

    TEMPO.CO, Kuta - Isu adanya swepping wisatawan asing asal Australia mulai merebak di Kuta, Bali, setelah terungkapnya kasus penyadapan terhadap Indonesia. Hal itu diungkapkan salah satu pemilik hotel di kawasan Kuta, Nyoman Graha Wicakasana, pemilik Hotel Bakung Sari.

    Menurut dia, isu sweeping itu sudah mulai merebak di beberapa jejaring sosial. "Yang paling kami khawatirkan, isu ini ditunggangi pihak yang tidak bertanggung jawab. Kami juga sudah dengar di beberapa jejaring sosial ada isu untuk sweeping wisatawan asing," ujarnya, Senin, 25 November 2013.

    Dia berharap, pemerintah dan aparat bisa mengantisipasi agar jangan sampai sweeping tersebut terjadi. "Ini yang seharusnya diantisipasi oleh pemerintah. Kalau itu terjadi, teroris yang akan tertawa melihat wisatawan di-sweeping," ujar Graha, yang juga merupakan Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kuta ini.

    Nyoman berharap, pemerintah segera menyelesaikan kasus ini agar tidak berkepanjangan. Ia juga berpendapat, masih banyak kasus lain yang seolah-olah dipandang sebelah mata, misalnya kasus TKI di beberapa negara.

    "Jangan sampai hubungan Indonesia-Australia renggang. Banyak kerja sama akan terbengkalai. Mengapa pemerintah tak fokus urus kasus yang lain saja? Kan bukan hanya kasus penyadapan yang penting," ujarnya.

    PUTU HERY


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Obligasi Ritel Indonesia Seri 016 Ditawarkan Secara Online

    Pemerintah meluncurkan seri pertama surat utang negara yang diperdagangkan secara daring, yaitu Obligasi Ritel Indonesia seri 016 atau ORI - 016.